menonjol di Provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu tim tidak menemukan adanya praktikpraktik diskriminasi ras dan etnis, serta suku agama dan antar golongan.
e. Kalimantan Barat
Terkait dengan potensi diskriminasi SARA, berdasarkan temuan Komnas HAM relatif
tidak ada. Hal tersebut dibuktikan misalnya di Kabupaten Kubu Raya menyampaikan
bahwa pengalaman pilkada sebelumnya terdapat 4 paslon yang lintas etnis, tetapi semua
aman dan lancar.
Memang masih ada beberapa peristiwa kampanye yang mengarah adanya potensi SARA di
Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, tetapi belum pada tindakan yang provokatif.
Selain itu di daerah Kabupaten Sanggau terdapat alat peraga kampanye berupa spanduk
di mana seolah-olah foto Kapolres dan Dandim kelihatan mengarah ke salah satu paslon.
Namun, peristiwa tersebut sudah dinetralisasi oleh kepolisian setempat.
Berbagai upaya dilakukan baik KPU, Bawaslu, maupun Polda Kalimantan Barat dengan
melakukan kerja sama dengan lembaga lain untuk mencegah hoaks dan antipolitisasi SARA
dengan jurnalis, Mafindo, dan pihak lain melalui kampanye di media sosial, media cetak,
dll. Bawaslu sudah bekerja sama dengan 17 platform media sosial dan juga Kementerian
Komunikasi dan Informatika untuk menurunkan (take-down) postingan yang berpotensi
mengarah SARA.
PILKADA RAMAH HAM • CATATAN KOMNAS HAM PILKADA 2018
48
Berdasarkan laporan yang dilakukan oleh Perwakilan Komnas HAM di Provinsi Kalimantan
Barat tidak ditemukan adanya praktik diskriminasi ras, etnis dan SARA pada saat tahapan
penyelenggaraan Pilkada.
f. Kalimantan Timur
Problem diskriminasi ras dan etnis, untuk wilayah Kalimantan Timur tampaknya tidak
terlalu menjadi persoalan seperti beberapa wilayah tetangga seperti Kalimantan Barat, dan
Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan, polarisasi politik identitas tidak terlalu signifikan
memengaruhi peta politik di Kalimantan Timur. Hal itu semua itu dipengaruhi kondisi
sosial masyarakat Kalimantan Timur sebagai daerah tambang dan perkebunan yang banyak
mengundang pendatang untuk mencari kehidupan dan pekerjaan layak.
Banyak pendatang memengaruhi komposisi penduduk dengan keberagaman etnis yang
relatif bervariasi. Berdasarkan data, justru etnis Jawa mendominasi persentase yang mencapai
30,6 persen, Bugis 20,7 persen, Dayak 16,2 persen, Kutai 13,1 persen, dan etnis lain 18,8
persen. Ditambah dengan kondisi Paslon Gubernur Kaltim yang merepresentasikan seluruh
etnis yang ada di Kalimantan Timur.
Paslon No 1 (Andi Sofyan-Rizal Efendi) berasal dari etnis Bugis dan Banjar, paslon No
2 (Sjahrie Jaang-Awang Herdian) berasal dari etnis Dayak dan Kutai, paslon No 3 (Isran
Noor-Hadi Mulyadi) etnis Kutai dan Bugis, dan paslon No 4 ( Rusmadi – Safarudin) etnis
Jawa dan Bugis. Situasi secara umum kondusif dan relatif tak ada isu diskriminasi ras dan
etnis.