Temuan FAKTA-FAKTA ­aratan Cina, militer Jepang telah mengembangkan suatu sistem d ­fasilitas ­perbudakan seksual militer secara pesat dalam waktu yang amat singkat. Merupakan norma bagi perwira tertinggi ­Pasukan E­ kspedisi-melalui staf bawahannya--untuk mendirikan f­asilitas ­ perbudakan seksual dan mengajukan atau mengotorisasi sendiri pembelian perempuan ­untuk fasilitas tersebut, demi mengalihkan ­gejolak seksual para ­tentara k­epada “comfort women” dan juga supaya mencegah perkosaan t­erhadap p ­ erempuan Cina. Tujuan lainnya yang signifikan adalah ­untuk m ­ enghindari penyakit menular seksual. Meski demikian, kesaksian P ­ rofesor Yoshimi mengungkapkan bahwa “comfort system” tidak mampu mencegah perkosaan perempuan di masyarakat ataupun menghambat penyebaran penyakit menular seksual. Menurut pendapat ahli Dr. Hirofumi Hayashi, semua kepala A ­ ngkatan Darat dan Angkatan Laut serta para Gubernur Jenderal punya akses langsung kepada Kaisar203. Ketika perang ­Sino-Jepang dimulai pada 1937, sebelum invasi Nanking dan intensifikasi ­ pendirian fasilitas “comfort”, diadakan Konferensi Penghubung Militer-­Pemerintah untuk menentukan kebijakan negara. Menurut Dr. Hayashi, dalam ­Konferensi penghubung dapat dibentuk Konferensi Kekaisaran ­untuk menghadapi hal-hal yang bersifat sangat penting. Konferensi ­Kekaisaran terdiri dari Kaisar, militer, dan pemimpin Kabinet, dan pada saat itu b ­ erfungsi sebagai badan pembuat keputusan utama negara Jepang 204. Perlu dicatat juga bahwa setidaknya satu orang a­nggota k­eluarga Kaisar terlibat, melalui bawahan langsungnya, dalam pendirian fasilitas perbudakan seksual di sekitar Nanking. (b) Perbudakan Seksual Perempuan Belia dan Dewasa di Taiwan Sejalan dengan kehendak membesarkan sistem perbudakan seksual, ­militer Jepang berusaha mendapatkan sejumlah cukup perempuan yang cocok dengan formula mereka, yaitu satu “comfort women” untuk ­seratus serdadu. Taiwan yang merupakan salah satu koloninya ­dipandang ­sebagai sumber perempuan belia dan dewasa yang­­­­bermanfaat. Pada akhir 1938, personil Jepang berangkat ke Taiwan merekrut ­perempuan untuk fasilitas “comfort” di Cina. Menurut kesaksian ahli ­Profesor Hayashi, tentara Jepang melakukan perekrutan ­dengan ­bantuan sebuah perusahaan bernama Taiwan Colonial Trade ­Corporation (TCTC) 73

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents