PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU Yun Zhulin menuturkan bagaimana ia terus-menerus “dilecehkan ­secara seksual” selama 15 bulan. Sebagai “comfort woman”, ia diberi nama ­Masako, yang tertulis pada papan di luar kamarnya. Serdadu Jepang harus terlebih dahulu membeli tiket untuk mendapatkan akses atas d ­ irinya. Biasanya terjadi barisan panjang serdadu Jepang yang ­menunggu di luar “comfort station”. Seorang serdadu m ­ emperlakukannya dengan baik, tapi serdadu-serdadu lainnya memperlakukannya dengan kasar. Ia ­bersaksi: Serdadu Jepang lainnya bertindak sangat tidak manusiawi dan mereka amat sangat kejam dan beberapa serdadu mengganti kondom sampai empat kali saat melakukan hubungan seks dengan saya dan karena ­begitu sakitnya saya sampai tidak bisa duduk. Saya bahkan tidak bisa berbaring untuk tidur. Saya ­bahkan tidak bisa tidur dengan leluasa... Pada saat antrean p ­ anjang, kami d ­ iberikan obat sejenis krim jelly dan ia [istri pengelola] m ­ engatakan, jika kamu merasa sakit, oleskan krim pada kondom untuk membantumu mengurangi rasa sakit... Tidak mungkin bisa kabur jadi saya terpaksa terus menjadi “comfort woman”. Yun Zhulin berulang kali diperkosa dan dipaksa melakukan hubungan seks tanpa perlindungan kondom karena tentara Jepang percaya ­bahwa perempuan disana bebas dari penyakit menular seksual. Pada salah satu periode perbudakannya, seorang perwira Jepang memonopoli ­pelayanannya, dan akan melakukan penyiksaan yang lebih berat jika ia tidak cepat-cepat melakukan setiap perintahnya. Yun Zhulin bersaksi bahwa,sangat sulit baginya untuk dapat melarikan diri. Meski akhirnya bisa kabur, ia tertangkap lagi, kemudian disiksa ­sebagai hukumannya, dan dijadikan contoh untuk perempuan lain yang berniat melarikan diri. Pengelola “comfort station” pernah mengizinkan dirinya keluar saat anak perempuannya meninggal, tetapi harus k­embali sebelum anaknya dimakamkan. Ia akhirnya berhasil melarikan diri lagi dan bisa tetap bebas, dan hidup bersama seorang tentara Jepang yang baik hati sampai perang berakhir. Totalnya ia hidup di fasilitas “comfort” selama 15 bulan, diperbudak secara seksual tanpa menerima ­pembayaran. Berdasarkan dokumentasi di atas dan kesaksian dari para ­penyintas ­maupun para ahli, terlihat jelas bahwa sejak pertama kali ­menyerbu 72

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents