Kemudian adanya permasalahan angka prevalensi ASI eksklusif yang menurun dalam kurun waktu 2013-2018. Salah satu penyebab rendahnya prevalensi ASI eksklusif ini adalah kondisi sosial dan ekonomi keluarga/orangtua. Pernikahan di usia muda, pertengkaran rumah tangga, perceraian, pola asuh orang tua kepada anaknya, maupun permasalahan lain yang bermuara pada masalah pelaksanaan hak atas kesehatan bagi anak. Hal ini tentunya juga sangat berpengaruh pada perolehan gizi dan nutrisi yang baik bagi anak (misalnya prevalensi stunting pada anak). Gambar 3. Angka Kematian Anak Indonesia, 1987-2017 Sumber: Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017, berbagai laporan Gambar 2 menunjukkan bahwa angka kematian anak di Indonesia dalam kurun waktu 19872017 menunjukkan penurunan yang signifikan. Secara khusus angka kematian balita di Indonesia pada 2019 adalah sebesar 23,9 per 1.000 kelahiran. Angka ini juga menurun dibanding dengan angka kematian balita pada 2018 sebesar 24,8 per 1.000 kelahiran. Kendati menurun, angka kematian anak dan bayi di Indonesia masih berada di level yang cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan angka kematian balita di negara tetangga seperti Thailand (9) dan Malaysia (8,6)97, kondisi di Indonesia masih memprihatinkan. 97 UNICEF, “Under-Five Mortality Rate” (2020) <data.unicef.org> diakses 10 Oktober 2020. 40

اختر الفقرة المستهدفة3