strategi pembangunan yang ditekankan adalah strategi pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks MP3EI, keberhasilan pembangunan diukur dari banyaknya output barang dan jasa yang dihasilkan dengan menggunakan indikator level dan tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Perumus MP3EI beranggapan bahwa dengan memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan cepat akan menurunkan angka kemiskinan. MP3EI juga berangkat dari pemikiran bahwa kepemilikan pribadi (private ownership) dan persaingan pasar merupakan mekanisme yang terbaik untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Jadi, orientasi pembangunan tidak banyak mengalami pergeseran kendati rezim Orde Baru sudah runtuh. Padahal, resep pembangunan ekonomi tersebut terbukti menghasilkan krisis yang mendalam. Ironisnya, pembangunan ekonomi nasional tetap berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang bersifat elitis. Dasar pemikirannya adalah mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi terlebih dahulu, setelah itu akan ditata ulang mekanisme pendistribusiannya sehingga kue pertumbuhan ekonomi kelak akan bisa dinikmati oleh semua pihak. Pertumbuhan ekonomi didahulukan dan dinilai lebih tinggi daripada pemerataan dan atau peningkatan kapabilitas pelaku ekonomi nasional. Konsekuensi logis dari asumsi ini jelas menyimpan sejumlah bahaya dan implikasi yang serius terhadap penikmatan HAM. Secara teknis, PDB hanya mengukur output. PDB juga hanya mengukur jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara tanpa membedakan apakah barang dan jasa tersebut diproduksi oleh perusahaan nasional atau asing (Fioramonti, 2013). Selain itu, PDB juga memasukkan unsurunsur yang mengancam kualitas hidup manusia seperti polusi, kemacetan, kerusakan hutan, penurunan kualitas air, dan lain-lain. Artinya, indikator ini bukan merupakan indikator kesejahteraan, pembangunan manusia, atau pembangunan berkelanjutan (Gadrey, 2004). Hal ini dipertegas lagi Kandungan Pokok MP3EI 41

Select target paragraph3