Kronik Jugun Ianfu Asia Agustus 1995 Perdana Menteri Jepang Murayama menolak apa yang dijelaskan dalam The Washington Post sebagai permintaan maaf atas perlakukan tidak manusia selama perang terhadap Cina, Korea dan Negara Asia lainnya. August 1995 Versi kedua dari rencana “dana pribadi” mulai mengumpulkan dana. Pada versi ini ditawarkan pembayaran kompensasi uang kepada survivor Jugun Ianfu secara individu, tetapi Pemerintah Jepang menolak bertanggung jawab atas sistem rumah bordil militer dan menolak membayar ganti rugi bahwa Jugun Ianfu merupakan kejahatan perang atau kejahatan terhadap kemanusiaan yang ditetapkan dalam hukum internasional. Jugun Ianfu dan organisasi pendukungnya melakukan kritik keras terhadap rencana “dana pribadi” tersebut. September 1995 Konferensi Perempuan dunia keempat di Beijing (PBB) mengambil keputusan mendukung Jugun Ianfu dengan melakukan upaya lobi yang intensif terhadap perwakilan negara Jepang. 1995 Telah dibuat kesepakatan pembicaraan antara Departemen Sosial dengan Kedutaan Besar Jepang untuk realisasi bantuan tahap pertama telah diajukan rencana usulan rehabilitasi/ pembangunan sarana isik dengan perlengkapannya bagi 5 Panti Sosial Tresna Wreda di 5 Propinsi senilai Rp. 775.000.000,- 1996 Mardiyem Jugun Ianfu asal Yogyakarta dan Budi Hartono dari LBH Yogyakarta mendapat undangan dari LSM Jepang untuk mengunjungi Hokaido dan beberapa kota lain di Jepang untuk mensosialisasikan masalah Jugun Ianfu ke kampus-kampus di Jepang. 23 |

Select target paragraph3