34
Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n
dengan menghentikan aktivitas mereka dan pulang. Namun, keesokan
harinya, Selasa 18 September 2012, beberapa petani kemenyan yang
sedang berada di tombak kembali menyaksikan pembukaan jalan oleh
pekerja TPL dan dikawal aparat Brimob dengan dilengkapi senjata laras
panjang. “Kami marah karena teguran dan larangan kami tidak
diindahkan pihak TPL. Pihak TPL selalu berdalih bahwa tindakan
pihaknya sesuai dengan konsesi dan Rencana Kerja Tahunan,” tambah
MS.
MS melanjutkan, “Kami memberanikan diri membangun dialog dengan
oknum Brimob tersebut, tetapi oknum Brimob tersebut malah bersikap
arogan, berupaya memancing kemarahan dan melecehkan dengan
mengatakan: “sahali tumbuk hulean 2 juta” (sekali saja anda pukul saya,
saya kasih anda dua juta rupiah). Tetapi kami tidak menanggapi dan
tidak terpancing dengan sikap arogan aparat ini.”
Informasi tentang masih berlangsungnya aktivitas TPL di lahan dan
sikap arogan aparat Brimob ini segera menyebar di kampung. Keesokan
harinya, Rabu 19 September 2012, sekitar 30-an warga berangkat ke
tombak. Setiba di tombak Sitangi, warga menemukan pekerja TPL
sedang membuka jalan baru dengan menggunakan alat berat eskavator,
dikawal security TPL dan oknum Brimob memakai kaos oblong lengkap
dengan senjata laras panjang.
Warga mendekat untuk memperingatkan supaya menghentikan
penebangan pohon kemenyan, tetapi dihadang oleh petugas dari
Brimob.
“Atas sikap Brimob yang arogan dan menodongkan senjata ke kami,
kemarahan teman-teman tidak bisa dibendung lagi. Tanah ini adalah
hidup kami, dan itu sekarang dirampas paksa oleh TPL, sekarang aparat
juga ikut melindungi perampas tanah kami dengan cara mengancam
hidup kami. Sesungguhnya kami telah mati karena tanah hidup kami
telah lebih dulu diambil. Itulah membuat kami tidak takut apa pun.
Senjata-senjata ini tidak membuat kami takut lagi. Ketika kami semakin
mendekat dan menarik senjata-senjata itu dari Brimob, eh malah
mereka yang ketakutan dengan hidupnya sendiri, dan lari minta ampun.
Senjata-senjata yang dibiayai rakyat ini tidak seharusnya ditodongkan
kepada rakyat,” jelas MS.
Ternyata aksi mengamankan senjata Brimob ini menimbulkan
kemurkaan Aparat Polisi di Polres Humbahas. Beberapa jam kemudian,
puluhan intel polres dikerahkan ke Desa Pandumaan menginformasikan