112 Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n banyak. Buah-buahan seperti durian, cempedak, rambutan, manggis juga banyak. Keberadaan PT Asiatic Persada yang melakukan ekspansi perkebunan sawit menyebabkan ekonomi SAD Batin Sembilan menjadi terancam. Kutar kecil ditinggal oleh ayahnya. Pada masa remaja, Kutar memiliki pengalaman hidup di kota. Namun, khawatir dengan pengaruh pergaulan bebas di kota, Kutar akhirnya pulang kembali ke Dusun Tanah Menang dan melakukan aktivitas pertanian. Sejak kecil Kutar terbiasa mengikuti orang tua untuk berladang dan menanam berbagai macam sayuran dan buah-buahan. Kutar memaparkan bahwa dahulu beras tidak pernah beli karena selalu panen setiap 6 bulan sekali. Saat PT Asiatic Persada masuk semua itu berubah menjadi kebun-kebun sawit. Ia menuturkan. Dahulu pernah kerja di Jambi jadi kenek mobil. Pada waktu itu banyak minum-minuman. Takut jantung terbakar tidak temu orang tua. Akhirnya kembali ikut orang tua buka-buka hutan. Tahun 1985 menikah. Saat itu BDU masuk pas pembukaan. Pertama kali mendengar isu BDU di Sungai Kandang (masuk Tanjung Lebar). Masih zamannya Soeharto bahwa isu-isu Bapak presiden RI membangun perkebunan berjenis sawit dan cokelat. Tahun 1985 orang tua diancam BDU. Tentaranya adalah Zainal Abidin. Brimob. Maka kami diusir-usir. Kata mereka kami sanggup mengganti. Karet waktu itu sudah produksi, biasa dijual ke daerah Bajubang. Rotan jernang bawa ke Jambi, waktu itu jalan kaki,” (Kutar, 58 Tahun, SAD, Wawancara, 13 September 2014). Tepat pada 7 Desember 2013, warga atas nama SAD 113 yang bertahan di kebun sawit yang diklaim sebagai HGU PT Asiatic Persada digusur secara paksa dengan bombardir oleh aparat gabungan perusahaan. Peristiwa ini bahkan menewaskan satu orang warga desa. Peristiwa tersebut terjadi tepat sehari setelah pemilihan ulang kepala Desa Bungku dilakukan. Kepala Desa Bungku terpilih adalah warga dari kelompok SAD 113 yang semula mendampingi perjuangan masyarakat adat SAD 113. Kepala desa terpilih pun ikut menghilang akibat pengusiran yang dilakukan perusahaan tersebut. Sehingga baru 6 bulan kemudian, kepala desa mulai dilantik dan aktif memerintah desa. Kutar tetap memilih bertahan di lahan nenek moyangnya. Kutar tetap tinggal di sekitar parit gajah yang kini membelenggu kehidupannya. Entah sampai kapan Kutar hidup dalam keterjepitan sawit perusahaan tersebut. Kutar pun seakan tak percaya lagi akan keseriusan pemerintah

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents