102
Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n
Batin Sembilan merupakan masyarakat lokal asli Provinsi Jambi yang
kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok berdasarkan
wilayah aliran sungai yang mereka diami, seperti: (1) Batin Bahar di
Sungai Bahar; (2) Batin Jebak di Sungai Jebak; (3) Batin Singoan di
Sungai Singoan (Sialang Puguk/Semuguk); (4) Batin Jangga di Sungai
Jangga; (5) Batin Bulian di Sungai Bulian; (6) Batin Batin Pemusiran di
aliran Sungai Pemusiran; (7) Batin Burung Antu di aliran Sungai Burung
Antu; (8) Batin Selisak di aliran Sungai Selisak; dan (9) Batin Sekamis di
aliran Sungai Sekamis. Di antara sekian banyak sungai yang didiami oleh
masyarakat adat Batin Sembilan, hanya Sungai Bahar yang berinduk di
Sumatera Selatan (Sungai Lalan), selebihnya semuanya berinduk di
Sungai Batanghari dan Batang Tembesi di Provinsi Jambi. Akan tetapi
ketika kita petakan maka wilayah mereka sebenarnya satu kesatuan
wilayah/bentangan alam yang sangat luas dengan batas teritori
khusus.67
Sumber lain mengatakan bahwa sejarah SAD Batin Sembilan Desa
Bungku merupakan keturunan Puyang Semikat yang datang dari
Palembang ke wilayah Desa Bungku. Puyang Semikat diusir raja karena
dianggap kekayaannya telah melampaui kekayaan sang raja. Setelah
diusir, Puyang Semikat menelusuri Sungai Lalan (Sumatera Selatan)
sampai ke Sungai Bahar (Jambi). Di wilayah Sungai Bahar, Puyang
Semikat bertemu dengan penguasa setempat, Depati Seneneng Ikan
Tanah. Pada akhirnya, Puyang Semikat mengawini dua putri Depati, yaitu
Bayan Riu dan Bayan Lais hingga memiliki anak-anak. Keturunannya
kemudian membentuk kelompok-kelompok yang berkembang pada
sembilan sungai tersier di Kabupaten Muaro Jambi hingga Kabupaten
Sarolangun, Provinsi Jambi. Sungai-sungai ini bermuara ke Sungai
Batang Tembesi dan Batang Hari. Sejarah yang bersandarkan pada
sumber kedua ini merupakan versi yang juga dituturkan oleh responden
penelitian ini, yaitu tokoh SAD Batin Sembilan tertua di Desa Bungku.
“Masyarakat asli Desa Bungku SAD berasal dari keturunan
Semikat. Semikat datang dari Penukal yang datang ke Pinang
Tinggi, kemudian membuka dusun. Kemudian menikah dengan
anak Depati Seneneng Ikan Tanah, yaitu Bayan Layis dan Bayan
Riu. Barulah kemudian Semikat dapat kedudukan. Anaknya Gadis
Semikat menikah dengan Depati Sanak. Depati Jentik anak
Semikat ada kuburannya panjang 9 m di tengah sawit sana. Di
dalam kerungan kubur tidak boleh di dozer. Kalo perusahaan
67
Ibid.