PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
arga sipil ke luar negeri, yang didalamnya harus mencantumkan
w
pernyataan mengenai tujuan melakukan perjalanan tersebut. Pihak
militer mengerahkan serdadu untuk menjaga gudang-gudang dan area
tertutup tempat para perempuan ditawan sebelum diangkut ke tempat
lain, dan serdadu juga ditugaskan menjaga keamanan dan ketertiban di
“comfort stations”. Pihak militer juga mengadakan persediaan kondom
kepada “comfort stations”.
Sejak awal pendiriannya, pihak militer Jepang telah menerbitkan
peraturan lengkap untuk mengelola “comfort system”. Antara lain
peraturan tersebut adalah peraturan kesehatan yang dirancang untuk
mencegah dan menemukenali penyakit menular seksual. Profesor
Yoshimi menyatakan, Angkatan Laut Jepang menerbitkan peraturan
yang mengharuskan “comfort women” bebas dari penyakit menular
seksual. Berdasarkan peraturan tersebut, ada dokter yang melakukan
pemeriksaan awal (kerap disertai perkosaan) dan pemeriksaan medis
yang sangat tidak nyaman terhadap “comfort women” sebanyak 2 kali
per minggu. Pada praktiknya pemeriksaan dilakukan dalam situasi yang
tidak mengindahkan privasi perempuan dan sering dengan cara yang
penuh kekerasan. Pemeriksaan penyakit kelamin ini dilakukan untuk
mencegah penyebaran penyakit menulai seksual di antara para tentara,
dan bukan untuk kepentingan para perempuan.
Pihak militer juga menerbitkan peraturan yang menentukan p
enggunaan
“comfort station” untuk divisi militer yang mana, dan mengatur personil
yang ditugasi mengawasi stasion-stasion tersebut. Peraturan lainnya
menjabarkan tipe dan umur perempuan yang
semestinya direkrut
sebagai “comfort women”, kondisi “comfort stations” & tata-tertib yang
harus dipatuhi oleh “comfort women”. Adapula p
eraturan mengenai
perilaku yang diharapkan dari para tentara,yang menyatakan bahwa
“comfort women” hanya boleh dipakai oleh personil militer yang
telah membayar, dan bahwa sistem tiket harus d
iberlakukan untuk
memastikan hal tersebut.
Pembentukan “comfort stations”, yang konon salah satu tujuannya u
ntuk
menghentikan perkosaan terhadap perempuan setempat, ternyata
tidak dapat mencapai tujuan tersebut. Sebaliknya, fasilitas-fasilitas
tersebut mencerminkan upaya memperkokoh budaya militer yang
menganggap wajar tindak kekerasan seksual, serta
melembagakan
perbudakan seksual dengan cara yang membuatnya tidak terlihat jelas
106
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents