PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
Jepang telah menerima laporan-laporan baik dari pejabat kedutaan
di Nanking maupun dari anggota korps diplomatik dan pers tentang
perbuatan kriminal tentara Jepang di Nanking. Salah satunya adalah
Menteri Luar Negeri, Koki Hirota, yang lalu meneruskan laporan t ersebut
kepada Kementerian Perang, di mana UMEZU menjabat sebagai Wakil
Menteri Perang. IMTFE selanjutnya menemukan bahwa laporan-laporan
tersebut dibahas dalam Konferensi Liasion, yang biasanya dihadiri oleh
Perdana Menteri, Menteri Perang dan Angkatan Laut, Menteri Luar
Negeri Hirota, Menteri Keuangan Kaya, Kepala pasukan dan Staf Jenderal
Angkatan Laut. Pemberitaan tentang laporan ini juga menyebar luas.
Minami, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur-Jenderal di Korea,
mengaku membacanya di surat kabar. Setelah laporan-laporan yang
negatif itu tersebar luas dan seiring dengan menguatnya opini p
ublik
dari berbagai negara di dunia, Pemerintah Jepang menarik M
ATSUI
beserta sekitar 80 perwiranya, namun tidak menghukum satupun
dari mereka. MATSUI, setelah kembali ke Jepang pada 5 Maret 1938,
ditunjuk sebagai Penasihat Kabinet dan pada 29 April 1940 dianugerahi
penghargaan untuk “jasa-jasa terhormat”-nya pada Perang Cina oleh
Pemerintah Jepang171.
Para hakim menganggap bahwa sikap Pemerintah Jepang atas perkosaan
Nanking merupakan suatu pengabaian tanpa hati. B
ahwasanya
pemerintah memakai alasan ‘marah atas terjadinya perkosaan massal’
untuk mendirikan “comfort station”, maka bagi k
orban kekejaman
di Nanking dan para “comfort women” hal ini merupakan tambahan
ketidakadilan.
2. Institusionalisasi (Pelembagaan) Sistem Perbudakan Seksual
(a) Perbudakan Seksual di Cina terhadap Perempuan Cina belia dan
Dewasa
Pemerintah dan militer Jepang mendirikan dan mengembangkan
“comfort stations” menjadi sebuah institusi yang sangat besar karena
berbagai alasan. Menurut bukti-bukti yang disajikan dalam Pengadilan
ini, “comfort station” didirikan, pertama untuk mencegah tentara Jepang
terjangkit PMS172 dan kedua, untuk menangkal sentimen anti-Jepang
yang tumbuh akibat perkosaan massal tak terkendali yang dilakukan
tentara Jepang terhadap perempuan sipil pada saat bergerak merebut
kekuasaan diteritori yang b
ersangkutan173. Bukti-bukti menunjukkan
66
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents