PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU “dalam kondisi damai dan pasukan tidak berangkat perang, i­nsiden t­ ersebut sulit dicegah.” Ia percaya militer mampu menyediakan ­fasilitas dan “cara-cara memecahkan masalah seksual para serdadu.” Ia m ­ engatakan bahwa “tentara telah berkeliaran di mana-mana untuk mencari perempuan” dan “sering mendengar cerita cabul” ­mengenai perilaku mereka. Okabe memerintahkan Letnan Kolonel Nagami ­Toshinori untuk melaksanakan “cara-cara itu”, yaitu dengan mendirikan “­comfort stations” 149. Seperti dinyatakan Okamura, model “comfort station” meniru ­fasilitas serupa yang sebelumnya telah didirikan oleh Angkatan Laut Jepang150. Fasilitas kelautan ini didirikan sebagai dampak p ­ enutupan sejumlah lokalisasi pelacuran berlisensi oleh K­ementerian Luar Negeri karena dianggap sebagai sumber Penyebar Penyakit M ­enular Seksual (PMS)151. Tujuannya tentu ­untuk m ­ emenuhi ­kebutuhan seksual para pelaut, sembari menangkal ­kemungkinan mereka terkena PMS. Untuk keperluan ini, Angkatan Laut Jepang ­menyewa dan mengatur tujuh “restoran”, yang ­ mempekerjakan pelayan perempuan (102 orang Jepang dan 29 orang Korea), yang ­secara eksklusif ­khusus melayani personil Angkatan Laut. Salah satu p­eraturannya adalah pemeriksaan medis oleh dokter terhadap “ p­elayan perempuan” sebanyak dua kali seminggu, disaksikan personil A ­ ngkatan Laut Jepang, petugas polisi, atau pejabat Kementerian Luar Negeri152. Jadi baik militer maupun pemerintah jelas telah mengawasi fasilitas “comfort” ini sejak akhir 1932, dan apabila ­semula t­ujuan pendirian fasilitas adalah menangkal para serdadu dari t­ ertular PMS maka kemudian berkembang menjadi tempat dilakukannya ­perkosaan terhadap perempuan oleh para serdadu. Adapula bukti yang menunjukkan bahwa pada tahun berikutnya,yakni Maret 1933, berdirilah “confirmed military comfort station”yang pertama yang disebut “Fasilitas Higienis dan Pencegahan Penyakit”, di bagian ­utara-timur Cina, di Kota Pinquan, untuk melayani Brigade G ­ abungan ke-14 153. Tiga puluh lima perempuan Korea dan tiga perempuan Jepang ditempatkan disana dan harus “melayani” s­ebagai “comfort women” serta wajib menjalani pemeriksaan medis rutin oleh dokter m ­ iliter 154). Militer Jepang melarang ­personilnya datang ke lokalisasi pelacuran berlisensi yang ada di kota dan m ­ engklaim bahwa semua pekerja seksnya telah terinfeksi PMS. Dan oleh karena itu militer Jepang malah aktif menyemangati personilnya untuk m ­ enggunakan fasilitas perbudakan seksual155. 62

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents