PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
keluar. Mardiyem tidak pernah menerima uang atas pelayanan seks
yang dilakukannya. Ia diberi tahu bahwa dengan mengumpulkan
tiket-tiket dari tentara Jepang,kelak kemudian jika ia sudah tidak lagi
bekerja sebagai “comfort woman”, dapat ditukarkan dengan uang.
Ia m
engumpulkan tiket-tiket tersebut sampai berjumlah beberapa
keranjang, tapi ia tidak pernah bisa menukarkannya dengan uang265.
Seorang saksi lainnya, Suhanah, melaporkan, pada 1942, saat b
erusia
16 tahun, enam serdadu Jepang mendekatinya saat ia sedang berada di
kebun belakang rumahnya, mereka menawarkan pekerjaan atau sekolah
kepadanya. Ia menolak tawaran mereka. Dan akibatnya, dijambak dan
dinaikkan paksa ke dalam jip tentara, dibawa ke sebuah “comfort station”
berjarak dua kilometer dari rumahnya. Cukup banyak perempuan yang
sudah terkumpul di tempat itu. Tiga hari setelah p
enculikannya, Suhanah
menjalani pemeriksaan medis, dan ketika ia menolak
memenuhi
keinginan seksual tentara Jepang, ia diperkosa s
erta
dicambuki. Ia
dipaksa melayani seks sejumlah tentara setiap h
arinya, termasuk dokter
yang memeriksanya. Tindak kekerasan seksual yang dialaminya kerap
disertai dengan penghinaan dan perlakuan b
rutal lainnya. Ia terkena
penyakit kelamin sebagai akibat dari perkosaan-perkosaan tersebut266.
(g) Perbudakan Seksual di wilayah Kekuasaan Belanda danterhadap
Perempuan Belanda belia dan Dewasa
Pada 1942, seturut invasi Jepang ke Indonesia, tentara Jepang menahan
warga [sipil] keturunan Belanda di kamp penahanan yang terpisah u
ntuk
perempuan, anak-anak, dan laki-laki. Pada 1944, tentara mendaftar
perempuan penghuni kamp yang berusia antara 17 sampai 28
tahun267. Tidak lama kemudian, sejumlah pejabat militer Jepang (yang
tentunya berpangkat tinggi karena mereka diberi hormat saat mereka
tiba) datang dengan kendaraan militer, lalu m
emerintahkan semua
perempuan itu berbaris di kamp tersebut. Pejabat-pejabat itu memilih
sekitar 12 perempuan untuk menemani mereka, dan yang kemudian
dipaksa masuk ke dalam sistem perbudakan seksual militer Jepang.
Saksi bernama Jan Ruff-O’Herne merupakan salah satu dari perempuan
yang dipilih. Para pejabat membawa gadis-gadis ini ke sebuah rumah
kolonial Belanda yang dikelilingi pagar tinggi berkawat berduri. M
asingmasing menempati satu kamar dan diberi tahu bahwa m
ereka harus
98
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents