PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU ia melihat ­banyak perempuan usia belasan tahun sedang ­dikumpulkan. Dari ­ Pyongyang, seorang laki-laki Korea membawa Song Shin-Do ke ­Wuchang dan meninggalkan dirinya di sebuah bangunan militer besar yang ternyata merupakan sebuah “comfort station”. ­bernama ­ Pandangan Dunia. Saking dekatnya dari arena peperangan sengit, ­ ­dilantai ­bangunan tersebut bergeletakan mayat-mayat, dan Song ­­ShinDo serta semua ­perempuan diperintahkan untuk membuang mayatmayat itu dan membersihkan noda darah yang menempel di tembok. Setelah itu, mereka diperiksa untuk penyakit menular seksual, dan pada saat itulah Song Shin-Do menyadari apa sebenarnya pekerjaan yang harus ­dijalaninya. “Kanedo” adalah nama profesionalnya, dan dengan nama itu Song-Shin Do harus memberikan layanan seksual kepada sejumlah besar tentara Jepang237. Ia menceritakan pengalamannya: Pengelola “pandangan dunia” adalah seorang laki-laki Korea b ­ ertubuh pendek.... Disana ada sekitar 12 “comfort woman” dan semuanya berkebangsaan Korea. Kami dilarang berbahasa Korea, bahkan tidak ­diperbolehkan berbincang dengan sesama perempuan yang ada di sana. Dari semua perempuan di sana, sayalah yang paling m ­ enderita. Saya masih sangat muda, bahkan belum dapat menstruasi. Waktu ­pertama kali dipaksa melayani seorang serdadu, saya tidak tahu apa yang s­eharusnya saya lakukan. Saya tidak dapat berhenti ­menangis, dan saya lari keluar. Laki-laki pertama yang datang ke kamar saya adalah ­seorang perwira bernama Takahashi, dan ketika ia melihat saya lari ­sambil ­menangis, ia tidak melakukan apa-apa, lalu pergi. Ia ­kemudian ­melaporkan saya, dan seseorang dari kantor memarahi saya ­habishabisan. Saya ­ketakutan luar biasa di kantor itu. Saya tidak tahu sedang berada di mana, saya tidak menguasai bahasanya, saya tidak punya uang dan tidak tahu ­bagaimana cara menemukan kereta api, sementara daerah tersebut dikepung oleh tentara, jadi tidak mungkin saya melarikan diri. ­Selalu, saat tentara masuk ke kamar saya, membuat saya ketakutan dan merasa ngeri, saya menangis dan mencoba ­melarikan diri. Si menejer ­menampar pipi saya sampai hidung saya berdarah, menahan makanan saya dan mengurung saya di kamar yang sempit. B ­ agaimanapun, saya tidak bisa selalu m ­ enghindar, dan sambil m ­ enangis, saya menjadi alat untuk memuaskan gairah seksual para tentara.... Saya dipaksa melayani ­lusinan tentara setiap harinya. Saya tidak boleh istirahat saat mengalami 86

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents