PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU 6. Kedok Prostitusi “Comfort stations” umumnya dirancang sedemikian rupa agar t­ampak seperti kompleks prostitusi, di mana para tentara membayar u ­ ntuk mendapatkan pelayanan perempuan. Tarif ditentukan peraturan ­ ­militer. Tetapi menurut kesaksian di hadapan Pengadilan ini, sebagian ­besar mereka tidak pernah menerima uang dari tarif itu. Kim Bok-Dong ­bersaksi, “Pada saat itu, saya bahkan tidak tahu bahwa saya ­seharusnya mendapat uang.” Song Shin-Do bersaksi bahwa ia “nyaris tidak ­menerima ­pembayaran”, dan bahwa saat menerima gaji yang jumlahnya ­sangat kecil,uang itu diambil kembali sebagai “Sumbangan Pertahanan ­Nasional.” Sejumlah kecil “comfort stations” membagi penghasilannya dengan “­comfort women”, dengan ketemtuan menejer mengambil bagian ­sebesar 50 sampai 60 persen. Lu Mang-Mei dan Teng Kao pao-Chu bersaksi mereka menerima persentase dari penghasilannya, dan ­ Lu Mang-Mei bersaksi bahwa ketika akhirnya dibebaskan dengan ­keterangan sakit, ia dapat membeli tiket pulang seharga 99 yen. Teng Kao Pao-Chu menyatakan, waktu menerima uang, ia ­menitipkanya kepada tentara untuk dikirimkan kepada keluarganya di rumah, tetapi uang tersebut tidak pernah diterima keluarganya. Ha S­ang­ Sook b ­ ersaksi ia diberi mata uang militer yang tidak dapat digunakan. ­Mardiyem bersaksi ia mengumpulkan tiket hingga beberapa keranjang yang ­seharusnya dapat ditukar dengan uang pada akhir masa perang, tetapi ternyata tidak bernilai. Nona X bersaksi ia menerima 5.000 yen saat ia dibebaskan dari “comfort station” pada akhir masa perang. Ada kemungkinan kompensasi itulah yang kemudian mengakibatkan ia ­ ­ditolak kembali ke desanya dan terpaksa pindah ketempat lain. ­Beberapa perempuan memang menolak pembayaran, walaupun ditawarkan, agar tidak dianggap sebagai pekerja seks. Mayoritas saksi bersaksi bahwa mereka tidak dibayar, tapi ­pengelola ­menyediakan makanan, pakaian, dan kosmetika bagi mereka. ­Ada­ kalanya tentara memberikan uang atau hadiah bagi perempuan, ­menurut Laporan OWI mengenai “comfort station” di Burma. Ketika para perempuan menerima uang dari pengelola “comfort s­tations” atau para tentara, mereka seringkali dipaksa menukarnya d­ engan 128

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents