PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU bahwa sejumlah besar “comfort women” di Myitkiyna, ­ Burma, mati dalam pemboman Sekutu setelah melayani tentara di lubang-lubang ­perlindungan. Song Shin-Do bersaksi bahwa di garis depan perang di Cina, tidak ada petugas medis yang memeriksa para perempuan untuk penyakit ­menular seksual, justru ketika mereka sangat rentan terpapar infeksi. Di sana, mereka juga dipaksa melakukan tugas jaga, tanpa tahu k­ apan ­tentara Cina akan menyerang. Song Shin-Do melanjutkan bahwa ia ­pernah dipaksa menyaksikan pembantaian massal tawanan perang Cina, lalu menghidangkan minuman keras pada sebuah pesta ­sesudahnya. Song Shin-Do juga bersaksi bahwa saat perang hampir berakhir, para tentara menjadi semakin putus asa dan memintanya ikut ­melakukan s­eppuku (ritual bunuh diri) bersama mereka. Baginya ini sangat mengerikan, karena seperti penuturannya, “Saya mau tetap hidup, ­ dalam kondisi apa pun.” 5. Kekerasan Fisik dan Mental (a) Pemerkosaan Tanpa Henti dan Kekerasan yang Menyertainya Satu demi satu saksi bertestimoni tentang kengerian, kesakitan, ­ketakutan, kekejaman, dan ketidakberdayaan yang mereka rasakan pada saat tentara memperkosa mereka. Di “comfort stations”, para p ­ erempuan belia dan dewasa harus selalu menghadapi perkosaan ­selama masa terjaganya,dan ini berlangsung dalam kurun waktu ­beberapa b ­ ulan sampai bertahun-tahun. Menurut para saksi, ini m ­ ­ engakibatkan kemaluan mereka membengkak dan terus menerus pendarahan. ­ ­Sebagian besar saksi mengatakan bahwa mereka tidak dapat b ­ erjalan, duduk, tidur, atau kencing tanpa mengalami rasa sakit. Marta Abu Bere bersaksi, “Pertama kali, sepuluh laki-laki memperkosa saya. Setelah satu orang selesai, orang lain langsung menggantikannya. Dan mereka ­melakukannya berulang kali. Kami diperlakukan seperti binatang. Kami tidak dapat melakukan apa-apa. Jika kami berbuat sesuatu, kami akan dicekik. Saya tidak dapat berjalan. Bagaimana bisa berjalan setelah diperkosa sepuluh laki-laki?” Tomasa Dioso Salinog, seperti beberapa saksi lainnya, masih ­kanakkanak ketika ia diperkosa. Ia bersaksi, ia bertubuh gemuk dan “serdadu 120

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents