Temuan FAKTA-FAKTA Di Borneo, perempuan dijadikan target untuk diperbudak karena ­pernah terlibat dalam hubungan seksual suka sama suka dengan l­akilaki Jepang, kendati hubungan seperti itu dilarang dalam aturan militer. Sebagian perempuan lainnya malah dipaksa menjadi budak seks atas tuduhan palsu atau dicurigai memiliki hubungan seperti itu. Pihak pembela sistem perbudakan seksual militer Jepang umumnya ­berpendapat “comfort women” adalah pekerja seks yang sukarela. P­engadilan ini dengan tegas menolak klaim tersebut, namun juga tidak mengatakan bahwa tidak ada pekerja seks yang sukarela ­melayani personil militer Jepang selama masa perang. Menurut definisinya, ­ ­prostitusi sukarela bukan merupakan bagian dari sistem perbudakan seksual militer290. Walaupun militer Jepang m ­ emang merekrut sejumlah mantan pekerja seks ke dalam sistem “comfort ­women”, bukti-bukti menunjukkan bahwa begitu masuk ke dalam ­sistem tersebut, mereka juga mengalami kondisi perbudakan serupa seperti perempuanperempuan lainnya. Kesaksian ahli menunjukkan bahwa pekerja seks berlisensi asal Jepang pun tidak memiliki kebebasan ­untuk menolak menjadi “comfort women”, dan begitu masuk, mereka juga k­ ehilangan kebebasan untuk menentukan syarat-syarat pelayanan ataupun keluar dari situ. 3. Cara Perolehan atau Pembelian “Comfort Women” (a) Metode Pembelian Para Hakim menemukan bahwa militer Jepang, polisi sipil serta ­agen-agen mereka memasukkan “comfort women” ke dalam sistem ­perbudakan seksual dengan segala cara. Mulai dari kekerasan atau ancaman kekerasan,juga menipu dan memperdagangkan. Adapun ­ para saksi memastikan bahwa mereka diperbudak setelah diculik, atau ­ dengan cara pemaksaan lainnya, termasuk pewajiban militer, ­penangkapan, penahanan, intimidasi serta memanfaatkan pemimpin setempat untuk menyerahkan gadis-gadis belia. Sebagian besar saksi yang berasal dari Filipina, Malaysia, Timor Leste, dan beberapa dari ­Korea, Cina, Taiwan, dan Indonesia berkesaksian, mereka diperbudak setelah diculik secara paksa. Sebagai contoh, Tomasa Dioso Salinog dari Filipina dan Ms. X dari M ­ alaysia, bersaksi bahwa mereka diculik dalam suatu aksi ­penggerebekan yang menewaskan anggota keluarganya. Tomasa Dioso Salinog m ­ enyaksikan 109

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents