PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
Para perempuan diperbudak dan berkali-kali diperkosa dalam waktu
yang lamanya bervariasi, rata-rata beberapa bulan hingga dua tahun,
walaupun periode yang lebih pendek ataupun panjang juga cukup
banyak ditemukan. Kebanyakan anak gadis atau perempuan yang
belum m
enikah kehilangan keperawanannya saat p
ertama kali
di
perkosa. S elama berada di fasilitas tersebut, kekerasan dan penyiksaan
tanpa henti telah mengakibatkan, disengaja maupun tidak, berbagai
bentuk p
enderitaan reproduktif, misalnya kehamilan, aborsi,
keguguran, s terilisasi, penyakit menular seksual, dan mutilasi seksual.
Pemukulan, penusukan, pembakaran dan penganiayaan seksual yang
menyertai perkosaan dan perbudakan telah menimbulkan k esakitan
dan penderitaan yang luar biasa, begitu juga pemeriksaan medis yang
melecehkan dan dilakukan secara paksa kepada para perempuan
tersebut. Kondisi penuh siksaan ini juga telah menimbulkan k erusakan
emosional dan psikologis yang parah. Kondisi penawanan yang
mengerikan telah menimbulkan kasus-kasus kekurangan gizi, penyakit,
atau kematian. Sejumlah besar perempuan tidak dapat bertahan hidup
dalam kondisi penyiksaan tersebut, atau memang sengaja dibunuh.
Walaupun detil pengalaman para perempuan tersebut berbeda dari
negara ke negara dan dari “comfort station” satu dengan lainnya,
terdapat banyak persamaan yang menggambarkan secara k onsisten,
karakateristik suatu sistem yang sangat terorganisir. Bagian b
erikut
membahas karakteristik-karakteristik yang secara umum dapat
ditemukan pada semua negara terdampak.
1. Kontrol dan Pengaturan Militer atas Sistem “Comfort Women”
Setelah mendapatkan persetujuan dari tingkat tertinggi pemerintah,
militer Jepang mendirikan fasilitas perbudakan seksual untuk
digunakan perwira dan serdadunya. Sebagian dari fasilitas-fasilitas itu
dikontrol langsung oleh satuan-satuan Angkatan Darat atau A
ngkatan
Laut, a dapun yang lain (mungkin mayoritas) dikelola warga sipil yang
mengoperasikannya untuk keuntungan pribadi. Menejer sipil juga
kerap bertindak sebagai “perekrut”. Pihak militer terlibat secara langsung
dalam pengumpulan “comfort women”, melalui perekrutan yang
bercirikan penipuan, penculikan, penangkapan,serta menginstruksikan
pejabat setempat membantu mengumpulkan perempuan. Pihak militer
juga memiliki otoritas untuk menyeleksi dan mengawasi “perekrut” sipil.
104
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents