Tren Marjinalisasi dan Diskriminasi Hak Politik masyarakatnya terhadap PD dewasa ini sangat kondusif, mulai dari soal penempatan kerja dan akses pendidikan hingga sarana umum dan segala yang bersangkut paut dengan bidang politik termasuk sistem penyelenggaraan Pemilu, semuanya ditata melalui fasilitas kemudahan atau aksesibilitas bagi PD tanpa halangan, hambatan dan reduksi hak bagi PD untuk berekspresi dan berapresiasi. Realitas tersebut terungkap melalui pengalaman pribadi Yehezkiel Parudani, seorang tunanetra Sulawesi Selatan yang pernah menjadi utusan Indonesia dalam pertemuan tunanetra tingkat Asia-Pasific di Malaysia dan Jepang. Dalam misi tersebut, Yehezkiel banyak melakukan studi banding terhadap bentuk perlakuan publik dari kedua negara terhadap PD dengan kesimpulan yang sangat memprihatinkan: “Terus terang betapa takjub dan bangganya saya menyaksikan dukungan, perhatian penghargaan dan kepedulian pemerintah maupun masyarakat terhadap kemajuan para tunanetra di Malaysia dan Jepang. Betapa tidak karena di Jepang misalnya; pemerintah setempat sangat memprioritaskan pembangunan yang aksesibel bagi PD. Antara lain dengan membuat Braille line sebagai garis penuntun bagi para tunanetra yang bermobilitas di sepanjang jalan-jalan protokol di Tokyo. Pembangunan Braille line seperti itu dapat pula kita jumpai pada seluruh kota besar lainnya di Jepang. Untuk menghindarkan para tuna netra tercebur ke dalam selokan, pemerintah menutupi seluruh selokan besar yang ada di Jepang dengan tembok beton di mana pada jarak-jarak tertentu dibuatkan konstruksi khusus yang secara fleksibel dapat dibuka dan ditutup untuk proses pembersihan. Hal ini dilakukan agar para tunanetra dapat bermobilitas dan beraktivitas secara aman, nyaman tanpa adanya kekhawatiran tersesat atau mengalami kecelakaan lalu lintas, pemerintah membangun sistem suara penuntun atau voice guidance dan menempelkan tulisan huruf Braille pada semua fasilitas umum seperti bandara, stasiun kereta api, terminal bis, kantor pos, telepon umum, fasilitas ATM dan sebagainya. Demikian pula pada seluruh perempatan jalan raya, diberi sign-sign tertentu sehingga para tuna netra dapat menyebrang jalan secara mandiri. Dua di antaranya yaitu perempatan jalan Itabashi dan perempatan jalan di pusat perbelanjaan termasyur di Jepang yakni Hakiabara. Untuk PD pengguna kursi roda, juga dapat mengakses seluruh bangunan dan fasilitas umum secara lancar tanpa kendala berarti, hal mana sulit sekali dinikmati oleh PD sejenis di Indonesia. Selain itu, pemerintah Jepang secara konsisten menyediakan budgeting dengan jumlah cukup besar demi pembangunan dan kesejahteraan para PD di Jepang pada khususnya maupun PD di negara-negara berkembang pada umumnya. Pokoknya Jepang bagi saya adalah model perlakuan publik yang begitu peduli dan apresiatif terhadap eksistensi kehidupan PD dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Di Malaysia, proses pembangunan bagi PD hampir serupa dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang. Hampir semua jalan utama dan bangunan 33

Select target paragraph3