Modul 2
rasional; dan banyak lagi yang lainnya.
Itulah yang disebut stereotip: melekatkan cap-cap tertentu, predikatpredikat tertentu, atau penilaian-penilaian tertentu pada segolongan atau
sekelompok orang, pada suku dan etnis tertentu, pada budaya tertentu,
pada agama tertentu, pada gender tertentu, dan lain sebagainya.
Stereotip ini sebenarnya adalah sebuah konstruksi sosial: proses bentukan
sosial yang dibangun oleh suatu kenyataan sosial yang sangat parsial
dan permukaan, bahkan mungkin juga lahir dari tuduhan-tuduhan dan
kecurigaan-kecurigaan yang tidak berdasar.
Kemunculan stereotip ini mungkin hanya karena ada segelintir orang
dari kelompok atau golongan tertentu yang kebetulan memiliki sifat dan
kecenderungan yang sama, namun sifat dan kecenderungan yang sama
itu dengan serta-merta kemudian dilekatkan pula, digeneralisasikan,
dan disamaratakan tanpa kecuali untuk semua anggota kelompok atau
golongan tersebut.
Ketika di dalam kenyataan ditemukan ada beberapa orang Padang atau
orang Cina yang pelit, sangat perhitungan, suka cari untung, misalnya,
maka kemudian disebutlah bahwa semua orang Padang atau orang Cina
itu pasti pelit, sangat perhitungan, dan tukang cari untung. Begitu pun
hal yang sama akan terjadi juga dengan yang lainnya: hanya karena ada
beberapa orang Batak yang berprofesi sebagai rentenir, maka kemudian
disebutlah semua orang Batak celakanya, yang sering terjadi adalah
stereotip yang negatif yang justru secara tidak sadar kita terima dan kita
yakini sebagai sesuatu yang benar, kenyataan yang sesungguhnya, yang
begitulah adanya. itu bertipikal rentenir; semua orang Sunda itu pemalas;
semua orang Madura itu kasar dan pemarah; semua orang Islam itu terosis,
dan seterusnya. Stereotip memang tidak selalu mengacu pada hal-hal
yang negatif. Ada juga stereotip yang mengacu pada hal-hal yang positif.
Misalnya, orang Padang dan orang Cina yang bermental pedagang itu
sering juga disebut para pekerja keras; orang Madura walaupun pemarah
dan berwatak keras, namun mereka itu sangat loyal, setia, jujur, dan
konsekuen.
Namun, celakanya, yang sering terjadi adalah stereotip yang negatif yang
justru secara tidak sadar kita terima dan kita yakini sebagai sesuatu yang
benar, kenyataan yang sesungguhnya, yang begitulah adanya. Sebagai
Pelatihan Hak atas Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi “Ekspresi Seni”
21