yang disampaikan OPD9 YPAC Jakarta menyebutkan bahwa terdapat kendala BDR bagi
disabilitas fisik saat pandemi yakni penyesuaian situasi belajar dari rumah.
“YPAC Jakarta ada jenjang TK-SMA, hampr 90% kondisinya high support dan very
high support. Tantangan bagi guru dan ortu butuh waktu lama karena banyaknya
kendala (teknologi dan perangkat). Bimbingan ortu dan guru luar biasa untuk kerja
sama yang intens dan akhirnya dimulai kunjungan ke rumah (namun on-off). YPAC
Jakarta fokus pada disabilitas fisik, ada juga DS (Down Syndrome) namun kami fokus
pada hambatan fisiknya. Mereka bisa melakukan terapi juga di sini. Cerebral Palsy
dengan kondisi keterbasan fisik yang besar seperti kekakuan hambatan motorik
halus, gangguan penglihatan, gangguan sensori dan kognisi. Ini membutuhkan
pendampingan total. Saat ini YPAC Jakarta dengan unit layanan pendidikannya
(SLB.D-D1 YPAC Jakarta) lebih fokus menangani anak-anak dengan kondisi
disabilitas Cerebral Palsy (CP). Kondisi disabilitas CP yang cukup kompleks,
membuat tidak semua anak bisa mengikuti proses pembelajaran daring. Kondisi ini
amat sangat tidak menguntungkan bagi anak yang sangat tergantung dengan mood
belajar, kemampuan focus dan konsentrasi yang terbatas, kondisi fisik yang tidak
mendukung saat belajar di rumah, dan juga kendala distraksi yang ditimbulkan oleh
situasi rumah,” jelas OPD9 YPAC Jakarta.
Kemudian ada pula permasalahan dari sisi tenaga pendidik seperti disampaikan
OPD10 Puspadi Bali. Ia mengeluhkan guru tidak punya kapabilitas untuk mengajar
penyandang disabilitas. Ini juga menjadi beban bagi orang tua/wali untuk berperan aktif
menjadi guru efektif di rumah. Hal ini didukung OPD12 BUMI Setara menyebutkan perlu
dukungan fasilitas Juru Bahasa Isyarat (JBI), misalnya SIBI dan Bisindo.
Tidak jauh berbeda dengan disabilitas lain, disabilitas tuli juga mengalami kendala
yang cukup signifikan seperti disampaikan oleh OPD13 SEHJIRA yang mengeluhkan siswa
tuli kadang mengalami kesulitan untuk mengakses sekolah daring dan bahkan tidak
menyampaikan ketidakpahamannya itu. Ia menyebutkan bahwa di beberapa sekolah tidak
ada penerjemah yang mendampingi, begitupun untuk mahasiwa tuli di universitas. Untuk
itu diperlukan penguatan bahasa isyarat. Senada dengan itu, OPD14 WWI menyebutkan
harus ada upaya untuk mempemudah guru dan masyarakat untuk dapat belajar bahasa
isyarat. Menurutnya, banyak yang mengeluh susah mendapatkan guru yang dapat
mengajarkan bahasa isyarat.
Lebih lanjut OPD2 HWDI Sulsel menyarankan sosialisasi bahasa isyarat kepada
orang tua yg memiliki anak disabilitas rungu agar anak mereka bisa mengetahui sistem
bahasa isyarat yang standar lebih awal. Hal yang sama juga disampaikan OPD5 GARAMIN
NTT terkait dengan guru di sekolah SLB guru bahasa isyarat yang masih minim.
67
اختر الفقرة المستهدفة3
الاتصال بفقرة
Connect to an entity
Disable highlights
أضف إلى جدول المحتويات