Standar Norma Pengaturan Nomor 9 tentang Pemulihan Hak-Hak Korban Pelanggaran HAM yang Berat | 60
percontohan kesehatan mental oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan. Sejak 2016,
telah dioperasikan langsung oleh Kota Gwangju. Sejauh ini, 11.853 orang menerima layanan
melalui 15 program pemulihan dan rehabilitasi.
Advokasi
282. Kamisan adalah aksi damai sejak 18 Januari 2007 para korban dan keluarga korban
pelanggaran HAM di Indonesia. Setiap Kamis pukul 16.00―17.00 WIB, mereka mengenakan
pakaian dan atribut serba hitam, berdiri, diam, dan berpayung hitam bertuliskan berbagai
kasus pelanggaran HAM. Aksi ini kemudian diikuti oleh banyak masyarakat, termasuk aktivis
dan kaum muda. Dalam aksi Kamisan, para aktivis dan korban pelanggaran HAM secara rutin
menyerahkan surat kepada Presiden Republik Indonesia, yang berisi desakan dan isu-isu
terkait kelanjutan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia.192
283. Ibu-Ibu dari Plaza de Mayo (Asociación Madres de Plaza de Mayo) adalah sebuah asosiasi ibuibu di Argentina yang anak-anaknya hilang pada masa kediktatoran militer, antara 1976 dan
1983. Mereka berusaha untuk mencari tahu akan nasib anak-anak mereka. dan dimulai
dengan pawai pada 1977 di Plaza de Mayo, Buenos Aires di depan istana presidensial Casa
Rosada. Mereka memutuskan untuk bersatu dan mendedikasikan untuk memperjuangkan
kembalinya anak atau cucu-cucu mereka yang hilang. Tanpa kenal lelah mereka mengunjungi
setiap pengadilan, kantor, panti asuhan, pusat penitipan anak, dan sebagainya, untuk
menemukan cucu mereka. Mereka juga muncul di pengadilan, kantor pemerintah militer,
Mahkamah Agung, dan gereja, namun tidak pernah mendapatkan hasil yang positif. Sampai
akhirnya mereka pun mengarahkan tuntutannya ke organisasi internasional seperti PBB dan
Organisasi Negara-negara Inter-Amerika.
Pendidikan Publik
284. Museum HAM Omah Munir didirikan pada 2013 di Kota Batu atas prakarsa Yayasan Museum
HAM Omah Munir dengan misi mempromosikan pendidikan HAM untuk generasi muda
Indonesia dalam rangka mendukung visi terciptanya warga negara yang cinta damai,
menghargai perbedaan, menjaga toleransi antarkelompok, dan menjunjung tinggi prinsip
kesetaraan.
285. Di Timor Leste, kelompok korban dan organisasi masyarakat sipil merintis model pendidikan
publik untuk memperkenalkan dan menyebarkan informasi tentang Laporan dan Rekomendasi
Chega (laporan KKR Timor Leste). Sejak 2010, mereka menyelenggarakan program kunjungan
sekolah untuk mengenalkan siswa melalui pameran Chega! Dalam program kunjungan sekolah
ini, selain menunjukkan dan menjelaskan kepada siswa tentang Chega! laporan, mereka juga
mengadakan diskusi dan refleksi. Model lain yang dilakukan adalah juga menyelenggarakan
“Chega mobile” untuk memfasilitasi sosialisasi dan diseminasi laporan Chega! di 13 distrik
(kabupaten) di Timor Leste. Kelompok sasarannya antara lain pelajar, pemuda, perempuan
dan masyarakat pada umumnya agar mereka belajar dan memahami sejarah Timor Leste dan
dampak konflik terhadap kehidupan mereka.193
Christoforus, Ristianto, “8 Fakta tentang 12 Tahun Aksi Kamisan hanya Sekali Diajak Masuk ke Istana,”
Kompas.com,
https://nasional.kompas.com/read/2019/01/17/12072721/8-fakta-tentang-12-tahun-aksikamisan-hanya-sekali-diajak-masuk-ke-istana?page=all, diakses pada 7 November 2021.
192
Lebih jauh tentang kegiatan ACBIT dan Chega Mobile dapat dicek di website resmi ACBIT:
https://chegabaita.org/
193