SEJARAH PEMBENTUKAN BANGSA (NATION BUILDING) DAN KELOMPOK MINORITAS DI INDONESIA I ndonesia merupakan salah satu bangsa di dunia yang memiliki ribuan kelompok etnis, agama dan budaya lokal paling beragam. Namun, kegamangan dalam mengenali dan mendefinisikan kelompok-kelompok tersebut mengakibatkan identitas mereka di Indonesia tidak terlihat. Meskipun secara nyata mereka ada dan hidup bersama dengan anggota masyarakat lainnya, namun identitas dan karakter mereka secara kolektif tidak diakui dan tidak dikenali. Akibatnya keberadaan mereka tidak dipandang dan hak-hak mereka tidak secara sistematis dijamin dalam regulasi dan program-program Pemerintah. Salah satu upaya untuk melihat asal usul keberadaan kelompok-kelompok minoritas di Indonesia dapat ditelusuri dari perjalanan panjang pembentukan bangsa ini (Nation Building). Fase awal pembentukan bangsa Indonesia dimulai pada tahun 1900-1945. Fase ini menjadi fase terbangunnya nasionalisme Indonesia yang merupakan fase integrasi dari keragaman (diversity) ke persatuan (unity) yang elemennya berakar sejak jaman Sriwijaya dan Majapahit. Fase ini ditandai dengan tiga kejadian yaitu, pertama yang disebut konsep “Indonesia” pertama kali dalam Manifesto 1924, kedua pengakuan pemuda-pemudi Indonesia untuk bertanah-air satu, berbangsa-satu dan berbahasa-satu Indonesia melalui Sumpah Pemuda 1928, dan ketiga deklarasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sebagai kemenangan atas kolonialisasi.15 Yang menarik dari fase ini adalah bahwa gerakan-gerakan nasionalis yang banyak berperan adalah kelompok kelas menengah yang kecil yang menghadapi dominasi Jawa. Sementara itu, suara dari masyarakat tribal bahkan tidak tersentuh dalam diskusi-diskusi karena asumsinya bahwa mereka harus di-civilized (diadabkan) dulu, sehingga bagi kelompok nasionalis Indonesia, mereka dianggap jumlah kecil yang bisa diabaikan.16 Elemen yang dipandang penting untuk membangun kesadaran nasional (national consciousness) adalah bahasa. Di dalam Kongres Pemuda tahun 1928, beberapa perwakilan dari etnis yang besar (dominan) seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali mengusulkan bahasa-bahasa di rumpun Austronesia. Namun yang kemudian digunakan adalah rumpun bahasa Melayu yang telah lama menjadi lingua franca dalam perdagangan di Nusantara. 15 16 Djoko Suryo. Indonesia’s Nation Building: From Diversity to Unity and from Revolution to Reformation (in Seeking Understanding with Korea’s Nation Building). Paper presented at 2003 Korea-Indonesia International Symposium on the Promotion of Education for Global Understanding: “Searching for a Cross-cultural Understanding” in Gajah Mada University, Yogyakarta, 19 February 2003. Accessed by 4 January 2016. http://socialstudies.or.kr/ neowiz/board/up_files/ files_10/2003 persen C0 persen CE persen B5 persen B5 persen B3 persen D7 persen BD persen C3 persen BE persen C6- persen B9 persen DF persen C7 persen A5 persen BF persen F8 persen B0 persen ED-Suryo.pdf Schefold. Op.cit. page 265 20 UPAYA NEGARA MENJAMIN HAK-HAK KELOMPOK MINORITAS DI INDONESIA SEBUAH LAPORAN AWAL

Выберите целевой абзац3