B.2. Studi Kelayakan Bagi Masyarakat Terdampak
Salah satu faktor yang menyebabkan berbagai persoalan mengenai ganti kerugian dalam pandangan Prof. Ida Nurlinda, ahli hukum agraria
Unpad adalah kurang optimalnya pemanfaatan studi kelayakan sebagai
hasil yang menyusun perencanaan pembangunan dan pengadaan tanah.
Padahal diantara aspek yang diperoleh dari sudi kelayakan adalah survey
sosial ekonomi masyarakat yang terdampak sebagai salah satu dasar pe
ngambilan kebijakan dalam penilaian dan penetapan ganti kerugian.
Dalam pandangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Slamet
Nuryanto, Bappeda menekankan bahwa survei sosial ekonomi adalah
kewajiban yang harus dipatuhi oleh instansi yang akan melakukan pe
ngadaan tanah untuk proyek pembangunan demi kepentingan umum.
Akan tetapi kondisi lapangan dalam pandangan Willy Hanafi,
Ketua LBH Bandung yang senantiasa mendampingi warga yang menjadi
korban pembangunan infrastruktur di Jawa Barat bertolak belakang,
selama ini tidak ada survey ekonomi sosial sehingga Pemerintah memiliki
pandangan bahwa pengadaan tanah untuk kepentingan umum menggunakan skema yang paling mudah dan terkesan memudahkan penanganan
persoalan sosial ekonomi masyarakat terdampak. Padahal, masyarakat
telah hidup dan menggantungkan sumber ekonomi selama bertahuntahun, seperti bercocok tanam dan berbagai sumber ekonomi menjadi
hilang, belum persoalan tempat tinggal yang telah tergusur.
Tampaknya hal-hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh peme
rintah, Ritahardoyo dalam penelitiannya menerangkan bahwa akibat
pola penggunaan lahan produktif untuk pembangunan akan membawa
konsekuensi terjadinya urbanisasi atau menjadi buruh tani di tempat lain
seperti di Kalimantan bahkan ke Malaysia; konflik agraria ini berpotensi
menimbulkan konflik horizontal, dimana ada keluarga yang memperoleh
keuntungan dari informasi karena masyarakat yang tidak tahu (assymatric
information) dan ada kelompok masyarakat yang diuntungkan serta sebagian dirugikan dari pembangunan suatu fasilitas umum; serta perubahan
pemilikan lahan yang semakin menyempit membawa konsekuensi pada perubahan penghasilan masyarakat yang sebagian besar berprofesi petani55.
44
55. Ritahardoyo, Su. 1999, Perubahan Pemilikan Lahan dan Pendapatan Masyarakat
Akibat Pembangunan: Studi Kasus Masyarakat Tergusur Pembangunan Waduk
Sermo di Desa Hargowilis Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo. Majalah Geografi Indonesia Vol 13, Nomor 2, Sept, hlm 103-117