BAB IV D I N A M I K A L I N G K U N G A N S T R AT E G I S 3. “Samudera yang bhineka”, atau saling menghormati dan menerima asal inisiatif bebas dari setiap negara Pasifik. 4. “Samudera yang saling menguntungkan”. Artinya, harus secara aktif berusaha untuk meningkatkan saling ketergantungan, saling pengertian, dan bekerja untuk pertumbuhan negara-negara di Pasifik. 5. “Samudera yang terbuka”, dengan membuka kerjasama dengan kawasan-kawasan dunia lainnya.15) Kesemua hal itu mendorong Indonesia untuk memiliki sikap terbuka dan untuk meninggalkan cara pandang “inward looking” menuju “outward looking”, yang berarti dibutuhkan satu revolusi mental tersendiri, sebagaimana halnya dengan transformasi dari agraris yang mengandalkan daratan menuju bahari yang berbasiskan pada lautan, dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa sehingga melahirkan ketahanan nasional yang tangguh dalam menghadapi globalisasi, atau dinamika global yang pesat. Jauh sebelum ini, dalam pidato pada Konferensi Ekonomi di Yogyakarta pada 3 Februari 1946, Hatta telah mengingatkan, sebagaimana berikut ini: “Kedudukannya di tengah-tengah jalan perhubungan di muka daratan besar Asia dan diapit oleh dua lautan besar, yaitu Lautan Hindia dan Lautan Teduh, sebetulnya memperkuat hubungan ekonominya dengan negeri-negeri Asia Timur dan sekitar Pasifik. Tetapi penjajahan Belanda membelokkan perhubungan ke Barat yang lebih jauh dan dikungkung oleh kepentingan perekonomian Nederland.”16) • Dinamika Regional Pergeseran grafitasi perkembangan ekonomi dunia ke Asia Pasifik menjadikan kawasan Asia Tenggara semakin strategis jika dilihat dari perspektif geopolitik dan geoekonomi. Robert D. Kaplan secara rinci 15) Djelantik, 2015:34. 16) Pane. Editor. Mohammad Hatta: Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977). Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015. Halaman 337. Pancasila, Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional 73

Выберите целевой абзац3