PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
pada rakyat yang tidak berdaya” 119. Kejahatan ini s edemikian terkenalnya
mendunia dan dinamai “Perkosaan Nanking”. Perkosaan terhadap
wanita Cina di Shanghai dan Nanking berskala besar dan berpengaruh
secara signifikan dalam keputusan untuk memperluas sistem “comfort
women”, maka kejahatan ini akan dibahas secara lebih mendalam di
bagian selanjutnya.
Setelah invasi Nanking, Jenderal HATA menggantikan MATSUI
sebagai Komandan Pasukan Ekspedisi Cina untuk waktu yang singkat
Maret 1938. Di bawah komando dan supervisi HATA, tentara Jepang
melanjutkan pemerkosaan, pembunuhan, dan penjarahan pada saat
bergerak m
enguasai berbagai wilayah selatan Cina. Temuan IMTFE
menyebutkan, “pada 1938 dan kemudian pada 1941 hingga 1944,
ketika HATA memimpin pasukan, anak buahnya melakukan berbagai
kekejian berskala besar dalam waktu yang panjang.” 120. Secara spesifik,
tentara di bawah komando HATA “bebas
melakukan
pembunuhan,
perkosaan, pembakaran rumah, serta tindakan keji lainnya” diseluruh
daerah Kepulauan Hainan, Canton, Hankou, Changsha, Kweilin, dan
Liuchow121 IMTFE juga menunjukkan bahwa “tugas HATA semula adalah
untuk menguasai area segitiga di antara kota Shanghai, Nanking, dan
Hanghow.” Namun, setelah sukses menaklukkan area segitiga ini, tentara
HATA, berjumlah antara 300.000 sampai 400.000 orang, bergerak “ke
dalam interior Cina” dan menduduki sejumlah kota lainnya122.
Ketika HATA melakukan perang dari 3 Juni 1938 sampai Agustus
1939, ITAGAKI ditunjuk sebagai Menteri Perang. Sejak itu intensitas
peperangan meningkat tajam, ditandai dengan serangan bertubi
tubi ke wilayah-wilayah Cina123. IMTFE menemukan bahwa “Jepang
sebetulnya berharap Perang Hsuchow yang menggempur dan
mengalahkan kekuatan utama Cina menjadi titik penentuan.Namun
karena Pemerintah Cina masih belum menyerah, meski H
suchow
berhasil dikuasai maka Pimpinan Tertinggi Jepang melanjutkan rencana
maju ke Hankou untuk menghajar Cina lebih lanjut dengan harapan bisa
mengakhiri perang di Cina”. ITAGAKI, yang menyadari bahwa perang ini
bisa berkepanjangan, berusaha mengobarkan semangat rakyat Jepang
dengan mengumumkan melalui kantor berita bahwa “tentara harus siap
meneruskan perang mungkin sampai sepuluh tahun ke depan”124. Dari
September 1939 sampai Juli 1941, ITAGAKI menjabat sebagai Kepala Staf
Pasukan Ekspedisi Cina125. HATA menjabat sebagai Menteri Perang, dari
56
Выберите целевой абзац3
Подключиться к абзацу
Connect to an entity
Disable highlights
Добавить в оглавление