PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
etode penyiksaan yang umum di Filipina, Malaysia, dan Indonesia80.
m
Ada lagi cara penyiksaan lain yaitu
menggantung korban
dengan
mengikat pergelangan tangan, lengan, kaki, dan leher, sedemikian rupa
sehingga “dapat mencekik korban atau m
engeluarkan persendian dari
tempurungnya”, dilakukan secara r utin di Filipina, Indonesia, dan Timor
Leste 81. Tindakan p
enyiksaan lainnya, seperti membayonet balita dalam
pelukan ibunya, mengiris payudara dan melukai bagian perut seputar rahim
perempuan, memotong alat kelamin laki-laki, amat kerap dipraktekkan di
Filipina 82.
Tindak kekejian lainnya, disebut baris kematian, dilakukan di Filipina,
Malaysia, dan Indonesia83. Tawanan sipil (termasuk tentara Amerika
Serikat yang tertangkap) di Filipina dipaksa b
erbaris di bawah terik
panas matahari selama beberapa hari dan hanya diberi air minum atau
makanan yang sangat sedikit. Mereka yang berusaha mencari air, atau
keluar dari barisan, ditembak atau dibayonet. Menurut IMTFE, pada
Februari 1942 saat TOJO mengunjungi Filipina dalam
kapasitasnya
sebagai Menteri Perang menjumpai mayat-mayat
bergelimpangan
di sisi jalan,mencari tahu tentang ini kepada Jenderal Homma 84. Di
Malaysia, tentara Jepang juga memaksa tawanan sipil di kamp perang
untuk melakukan baris kematian. Salah satu contoh kekejian yang paling
mencolok adalah ketika membangun jalan kereta api Burma-Siam, atas
saran TOJO Jepang memakai tawanan perang dan tawanan sipil. Tentara
Jepang memaksa mereka berbaris sejauh 200 mil dalam kondisi alam
yang sangat keras, dengan perlakuan yang tidak manusiawi,menyiksa
mereka dengan hanya memberi sedikit makanan dan air, tidak boleh
berteduh dan terus-menerus dipukuli dan dicambuk. mereka yang
berusaha melarikan diri langsung dibunuh.
IMTFE juga menemukan bahwa “pembunuhan massal para tawanan
perang, tawanan sipil, mereka yang sakit dan terluka, pasien maupun
tenaga medis rumah sakit serta penduduk sipil lainnya sangat sering
dilakukan selama Perang Pasifik,” termasuk membunuh k orban-korban
tersebut segera setelah tertangkap85. Eksekusi m
assal dilakukan
di Indonesia, termasuk terhadap p
ersonel kilang m
inyak
sebagai
pembalasan atas penghancuran kilang minyak di Jawa 86. Ditemukan
pula sejumlah peristiwa p
embunuhan massal terhadap rakyat pribumi
Indonesia. Banyak penduduk sipil yang secara paksa d
ipekerjakan
sebagai kuli perang, lalu dibunuh 87. Pembantaian massal juga terjadi
52