“Teman-teman tuli sering keluhkan ini. Saat ini teman-teman Komunitas Tuli membuka kelas gratis bagi teman-guru non yang mau belajar. Perlu mendorong Dinas Pendidikan atau sekolah-sekolah membuat training atau kelas bahasa isyarat bagi guru2 sekolah inklusi atau guru-guru di Sekolah Luar Biasa,” ujar OPD5 GARAMIN NTT. Permasalahan lain disabilitas netra disampaikan oleh OPD4 Mitra Netra menyebutkan bahwa untuk mahasiswa tunanetra sudah lebih mandiri menggunakan teknologi. Menurutnya, masukan yang perlu diberikan di antaranya adalah pelatihan komputer untuk seluruh anak tunanetra di Indonesia baik oleh pemerintah pusat maupun oleh pemerintah daerah, mengingat pelatihan-pelatihan semacam ini tergolong masing sangat jarang. Analisis: • Kualitas pendidikan selama pandemi Covid-19 ini secara umum diakui menurun. • PDPD dengan ragam disabilitas intelektual mengalami kendala tersendiri. Beberapa kendala belajar yang mereka hadapai, diantaranya idak memadainya ketersediaan support person, listrik padam (khususnya di wilayah-wilayah tertentu), dan koneksi sulit. • Tidak semua guru memiliki kapabilitas yang memadai untuk mengajar penyandang disabilitas. Situasi ini menuntut orang tua/wali untuk berperan aktif menjadi guru efektif di rumah. • Bagi ragam disabilitas rungu-wicara dan siswa tuli, kendala yang dihadapi adalah kesulitan mengakses sekolah daring dan masalah komunikasi. Selama ini layanan penerjemah yang mendampingi di sekolah pun sangat minim. • Ketersediaan guru yang memiliki kemampuan mengajarkan bahasa isyarat dan ketersediaan guru bahasa isyarat di sekolah SLB masih sangat minim. • Penting untuk melakukan sosialisasi bahasa isyarat kepada org tua/wali yg memiliki anak disabilitas rungu-wicara agar anak-anak tersebut dapat mengetahui sistem bahasa isyarat yang standar lebih awal. • Kesulitan yang dialami PDPD fisik umumnya berkaitan dengan kesulitan sinyal, bising di sekitar, dan harus didampingi terus menerus. 68

Select target paragraph3