40 persen penduduk termiskin justru diikuti oleh kenaikan kue nasional yang dinik mati 20 persen kelompok terkaya dari 42,2 persen tahun 2002 menjadi 48 persen tahun 2011 (Kuncoro, 2013). Hal yang sama ditemukan Pusatbaru Statistik pada gambar pendapatan (rasiooleh Gini)Badan pada 2002 0,32, tetapiyang pada terlihat 2011 telah bawah. Menurut (2013), ketimpangan (rasio Gini) pada 2002 melesat BPS menjadi 0,41.tingkat Data BPS juga mencatatpendapatan bahwa jumlah provinsi baru 0,32, tapi pada 2011 telah melesat menjadi 0,41. Data BPS juga mencatat bahwa dengan nilai rasio Gini diatas rata-rata nasional dari tahun ke tahun jumlah provmengalami insi dengan nilai rasio Gini di atas rata jumlah -rata nasion dari tahun ke tah peningkatan. Sebagai perbandingan, provinsialdengan mengalaminilai peningkatan. Sebagai perbandingan, rasio Gini di atas nasional pada 2008jumlah tercatatprovinsi baru tigadengan daerah, nilai rasio Gini di atasyaitu nasional pada 2008 tercatat baru yaitu DIdua Yogyakarta, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan tiga Papua.daerah, Pada 2012, naik Sulawesi Selatan, dan Papua. Pada 2012, naik dua kali lipat menjadi enam prov kali lipat menjadi enam provinsi antara lain DKI Jakarta, DI Yogyakarta, antara lainSulawesi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua, dan Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat. Papua Barat. Gambar 9.2. Indeks IndeksGini Gini Indonesia Indonesia Gambar 0,44 0,42 0,4 0,38 0,36 Trendline Koefisien Gini 0,34 0,32 2002 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Sumber: Booklet BPS 2013 dan Analisis & Penghitungan Tingkat Kemiskinan BPS 2008 Pelanggaran Prinsip-Prinsip Pembangunan Berbasis HAM 73

Select target paragraph3