Misalnya saja, proyek-proyek MP3EI di Sulawesi Selatan. Proyekproyek MP3EI lebih banyak dikembangkan di wilayah Kota Makassar dan sekitarnya. Padahal, Kota Makassar memiliki persentase penduduk miskin terendah dan PDRB tertinggi dibandingkan dengan kabupaten/ kota lainnya di Sulawesi Selatan. Sementara itu, kabupaten/kota tertinggal yang sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur justru kurang mendapatkan perhatian seperti Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Jeneponto. Untuk diketahui, Kabupaten Pangkep dan Jeneponto merupakan kabupaten/kota yang menempati urutan pertama dan kedua dengan persentase penduduk miskin terbanyak di Sulawesi Selatan dengan persentase masing-masing sekitar 17.36 persen dan 17.16 persen. Ironisnya, Makassar justru memiliki proyek pembangunan infrastruktur terbanyak di dalam program MP3EI yaitu sekitar 19 proyek dari 57 proyek. Hal ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Pangkep. Padahal, Kabupaten Pangkep merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah di Sulawesi Selatan seperti semen, marmer, slika, batu bara, udang, dan rumput laut. Itu pun hanya berupa proyek pengembangan industri semen PT Semen Tonasa. Meski demikian, pengembangan industri semen di wilayah ini tetap diragukan akan mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar. Alasannya, rata-rata lama sekolah penduduk hanya setingkat SD. Implikasinya, masyarakat kemungkinan hanya akan menempati posisi yang kurang strategis di perusahaan tersebut karena tingkat keterampilannya yang masih rendah. Sementara itu, dari jenis infrastruktur yang dibangun, nilai investasi pada sektor sumber daya air terlihat sangat kecil, yakni sekitar Rp 40.853 miliar atau hanya sebesar 2,4 persen dari total nilai investasi seluruh koridor. Artinya, sektor ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup besar dalam program MP3EI. Padahal, sektor ini memiliki nilai tambah berupa penyerapan tenaga kerja dan pengurangan kemiskinan. Pelanggaran Prinsip-Prinsip Pembangunan Berbasis HAM 69

Select target paragraph3