Kerangka pikir seperti ini sebenarnya berangkat dari konsep ekonomi geografi baru yang dikembangkan oleh Paul Krugman (1998). Teori ekonomi geografi baru adalah konsep ekonomi yang mencoba menjelaskan munculnya aglomerasi-aglomerasi besar dan implikasinya terhadap pembangunan dengan menggunakan sudut pandang keunggulan komparatif geografi suatu lokasi atau negara (Schmutzler, 1999). Ekonomi geografi tidak lagi melihat sumber daya alam yang melimpah sebagai faktor utama dalam pemilihan lokasi produksi oleh perusahaan. Sebaliknya, teori ini menekankan pentingnya aksesibilitas pasar dan transportasi dalam merangsang minat perusahaan melakukan aktivitas ekonomi produktif di suatu daerah. Selanjutnya, ilustrasi kerangka pikir dan mekanisme kerja ekonomi geografi baru versi Krugman (1998) sebagai berikut. Dalam konteks ekonomi geografi baru, produsen cenderung memilih lokasi produksi yang bisa menghasilkan keuntungan yang optimal. Lokasi produksi yang menguntungkan itu adalah daerah atau lokasi dengan karakter memiliki skala ekonomi yang besar dan biaya transportasi yang murah. Karena itu, teori ini menekankan pentingnya sebuah kondisi dimana tingkat pengembalian terhadap skala meningkat (increasing return to scale), biaya transportasi (transportation costs) yang rendah, dan adanya keterkaitan antara perusahaan, pemasok, dan konsumen (Schmutzler, 1999). Dalam konteks ekonomi geografi, konsentrasi aktivitas ekonomi produktif sangat ditentukan oleh besarnya kekuatan tarik menarik antara daya sentripetal dan sentrifugal. Daya sentripetal merujuk pada faktor-faktor penarik yang memengaruhi perusahaan dalam pemilihan daerah basis produksinya. Sementara itu, daya sentrifugal merujuk pada sejumlah faktor yang menyebabkan perusahaan bergerak menjauhi suatu lokasi produksi. Daya sentripetal berupa ukuran pasar, ketersediaan tenaga kerja, dan penghematan eksternal. Pasar domestik yang besar akan 36 Kajian MP3EI dalam Perspektif Hak Asasi Manusia

Select target paragraph3