Jugun Ianfu dan Hak Asasi Manusia Kesaksian Jan Ruff O’Herne Jugun Ianfu asal Belanda “Si Jepang mulai tidak sabar sekarang. Ia melemparkan tubuhku ke atas ranjang dan merobek-robek pakaianku. Aku berbaring disana dalam keadaan telanjang, sementara ia menggerak-gerakan pedangnya naik turun diatas tubuhku. Aku dapat merasakan baja dingin itu menyentuh kulitku ketika memindah-mindahkan pedangnya di antara tenggorokan dan dadaku, di atas perut dan kakiku” c. Perendahan Martabat Perlakuan Jepang dan pihak-pihak yang terlibat dalam perekrutan sampai pada penampungan Jugun Ianfu seringkali menunjukkan sikap yang melecehkan dan merendahkan martabat para perempuan tersebut. Mulai dari sikap, perkataan, sampai pada perbuatan, semua mengarah pada tujuan untuk merendahkan martabat korban Jugun Ianfu tersebut sebagai manusia dan khususnya sebagai perempuan. Kenapa demikian, karena sudah pasti bahwa tujuan awal dari perekrutan itu adalah untuk menjadikan perempuan sebagai obyek pemuas nafsu seksual tentara dan sipil Jepang yang berperang. Oleh karenanya, semua hal dilakukan atas dasar tersebut, yakni untuk merendahkan martabat korban Jugun Ianfu Jugun Ianfu sebagai perempuan. Sehingga, ketika integritas tubuh perempuannya diserang, maka para korban Jugun Ianfu yang kebanyakan saat itu masih anak-anak dan masih lugu, menjadi tidak berdaya karena shock dan trauma akibat serangan dan pelecehan seksual tersebut. Belum lagi ketika di penampungan dan dipaksa melayani serta memuaskan nafsu seksual tentara dan sipil Jepang. Perlakuan para tentara dan sipil Jepang tersebut sangatlah tidak manusiawi. Semuanya dilakukan dengan paksaan, bahkan sampai pada siksaan seksual. 47 |

Select target paragraph3