SUMAT E R A menjual tanah warisan, maka dianggap akan ‘kebendon’ atau kualat. Nenek moyang akan marah apabila tanah adat dijual. Dalam praktiknya, perempuan adat Banding Agung Semende jarang hadir dalam pertemuan-pertemuan komunitas adat yang membicarakan tanah yang akan dirampas oleh negara melalui negaraisasi wilayah adat. Perempuan masih termarginalkan dalam pengelolaan sumber daya tanah. Umumnya perempuan yang hadir menyatakan tidak berani bicara karena tidak disuruh bicara. Hanya menjadi pendengar saja dalam proses-proses pengambilan keputusan, meskipun senyatanya keputusan tersebut berkonsekuensi penting bagi kehidupan perempuan. Perempuan hanya mengikut saja keputusan laki-laki. Menurut perempuan, belum waktunya perempuan berteriak dan berada di depan. Subsistensi Perempuan Dusun Lame Banding Agung: Relasi Perempuan dengan Alam Hutan, kebun, sungai, tebat, dan pekarangan rumah merupakan sumber ekonomi dan subsistensi masyarakat adat dusun lama Banding Agung. Perempuan mendapatkan sumber pangan harian dari sumber-sumber tersebut. Variasi subsistensinya sangat kaya. Beragam jenis sayuran tersedia di pekarangan, kebun, dan hutan. Selada air, terung, kecipir, ubi kayu, kacang panjang, gurih/nangka, kates/pepaya, tebu telor, rampai/ tomat kecil, rebung, cabai rawit, paria merupakan sedikit dari yang terlihat di kebun dan pekarangan. Buah-buahan yang dapat ditemukan di kebun, pekarangan, dan hutannya, antara lain alpukat, kapuk, jambu biji, durian, jengkol, petai, pisang, jeruk manis, binjai/kemang, dan markisa hutan.. Untuk kebutuhan protein, beragam jenis ikan yang lezat bisa diperoleh dari sungai-sungai dan tebat yang ada di sekeliling Banding Agung Semende. Setidaknya terdapat 3 buah sungai besar yang bisa diambil ikannya. Di antaranya adalah ikan congkak, mungkos, pius, udang, lele, semah. Alkisah, menurut penduduk Semende, ikan tersebut hanya dijaring dengan jala, tetapi sebelumnya kita harus meminta dulu kepada tetua moyang Semende. Kita minta secukupnya, maka kita akan diberi cukup untuk kebutuhan kita. Bila tidak meminta, maka tidak satu pun ikan yang keluar. Masyarakat tidak pernah menggunakan tuba. Karena masyarakat adat yakin, alam dan air akan marah bila merusak alam. Sekali waktu, pernah ada pendatang yang mencoba menuba ikan di sungai. Tiba-tiba datang air bah menghanyutkan tuba ke hilir. Selain 69

Select target paragraph3