66 Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n Makna Tanah dan Sistem Waris Dalam Kehidupan Masyarakat Adat Semende Masyarakat adat Dusun Lame Banding Agung Semende hidup dari tanah adat di wilayah adatnya. Tanpa tanah, maka hilanglah eksistensi masyarakat adat Dusun Lame Banding Agung. Tanah sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan perempuan Banding Agung Semende. Sebagaimana dideskripsikan di atas, tanah terkait erat dengan subsistensi masyarakat dan perempuan adat Semende. Dari tanah di mana petani bisa bercocok tanam, petani mendapatkan nilai lebih yang digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan ekonomi, sosial, dan kebutuhan ritualnya. Perempuan Semende memenuhi kebutuhan pangan mingguan dari hasil panen kopi selang dan cabai rawit yang dipetik mingguan. Dari sini juga perempuan bisa menyisihkan kebutuhan jajan anak-anaknya, maupun kebutuhan mingguan anak-anak yang bersekolah. Sedangkan hasil panen raya kopi, biasanya digunakan untuk membeli pakaian dan memperbaiki atau membangun rumah mereka yang ada di Dusun Lame. Dari dana tersebut juga biasanya disisihkan untuk biaya pendidikan anak sekolah serta menabung. Sebagian kecil menggunakan uang hasil panen kopinya untuk melengkapi peralatan pertanian seperti membeli mesin penggiling kopi yang harganya sampai 7 jutaan.51 Seorang perempuan Semende menyatakan betapa pentingnya tanah dalam kehidupan subsistensi perempuan sebagai berikut. “Di tanah ini kami bertahan hidup untuk selanjutnya. Tempat untuk hidup dan penghidupan supaya bisa lebih baik lagi.” Solehatun, 28 tahun, Perempuan Semende, FGD di Dusun Lame Banding Agung Semende, 23 Oktober 2014. Yenny, salah seorang perempuan Banding Agung Semende menambahkan arti pentingnya tanah bagi perempuan Banding Agung Semende sebagai berikut. “Dari tanah ini kami bisa menyekolahkan anak-anak kami, menghidupi keluarga dan orang tua kami, serta memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Bagi kami tanah ini adalah harga diri kami, agar bisa hidup sederajat dengan orang lain. Setelah 51 Saat ini hanya ada sekitar 7 buah mesih penggiling kopi. Sebagian besar ikut hangus terbakar saat TNBBS melakukan operasi turunkan perambah dan membakar 120 buah rumah. FGD perempuan, Dusun Lame Banding Agung Semende, 22 Oktober 2014.

Select target paragraph3