SUMAT E R A Meskipun malam sudah larut, bahkan sudah menjelang dini hari, warga tetap menunggu di pinggir jalan tersebut. Sekitar pukul pukul 00.30 WIB, iring-iringan truk aparat mulai terlihat melaju dari dua arah, yakni dari arah kantor Polsek Kecamatan Pollung dan dari arah Doloksanggul. Situasi ini menyebabkan posisi warga yang meng-hempang jalan menjadi terjepit di tengah. Pada saat itu, aparat yang segera turun dari truk dengan menggunakan pengeras suara meminta warga bubar, namun warga tetap bertahan di tempat. Warga berkeras meminta agar teman mereka yang 16 orang dibebaskan, setelah itu mereka bisa bubar dengan tenang. Aparat mengatakan bahwa warga akan dibebaskan jika sudah terbukti tidak melakukan perbuatan melanggar hukum. Di tengah situasi yang mulai kacau ini, ketika berlangsung proses adu mulut, tiba-tiba polisi menangkap Pendeta Haposan Sinambela yang merupakan juru bicara warga. Kemudian warga lainnya juga ditangkap, antara lain Op. Pebri Lumban Gaol, Op.Putra Sinambela, dan beberapa warga lainnya yang belakangan diketahui sebanyak 15 orang. Polisi pun mulai berupaya membubarkan warga dengan membentak dan menendangi warga, baik perempuan dan laki-laki. Situasi semakin kacau dan mencekam, terdengar teriakan-teriakan dari polisi: “Yang laki-laki, tangkap...!” “Penduduk Pandumaan dan Sipituhuta anjing...!” Warga mulai kewalahan, kaum laki-laki mulai berupaya menyelamatkan diri dari kejaran aparat. Aparat semakin ganas, jerit, dan tangis kesakitan kaum ibu dan anak-anak terdengar ketika aparat memaksa membubarkan barisan warga. Namun, kaum perempuan ini tetap bertahan dan mulai menyanyikan lagu-lagu rohani. Beberapa sepeda motor yang parkir di pinggir jalan tidak luput dari amukan polisi, dipukul dan dirusak. Pada dini hari itu juga, polisi yang dipimpin langsung oleh Kapolres, melakukan penyisiran ke rumah-rumah warga. Beberapa rumah warga dirusak dan dibongkar paksa oleh aparat antara lain: (1) Rumah James Sinambela, jendela dan pintu dapur dibongkar paksa, kamar dan lemari pakaian diacak-acak. Menurut James Sinambela, beberapa barang berharga milik mereka hilang; (2) Rumah Ama Friska Lumbangaol, rumah dibongkar paksa, meskipun anak-anak dan istrinya menjerit-jerit histeris tetapi aparat tersebut tidak perduli. Ama Friska yang saat itu dalam kondisi sakit dipukuli di bagian kepala, kakinya yang sedang sakit (cacat sejak lahir) diinjak-injak aparat; (3) Rumah Ama Junjung Sihite (Kersi Sihite), rumah digeledah, istri dan anak-anaknya menjerit-jerit histeris dan ketakutan. Suasana dua desa ini menjadi sangat mencekam. Sekitar pukul 03.00 WIB, aparat baru meninggalkan dua desa ini. 43

Select target paragraph3