PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU Dari 14 perempuan tersebut, 11 orang positif menderita stres p ­ ascatrauma (PTSD), suatu respons psikologis terhadap trauma. ­Karena terintimidasi ancaman kematian, ketidakberdayaan dan k­etakutan yang sangat intensif sepanjang perbudakan seksual maka ­perempuan itu menjadi takut dan menghindari laki-laki serta pernikahan; masa ­lalunya terblokir ; sulit tidur dan didera kecemasan jika melihat ­lakilaki atau t­entara. Gejala ini terus menerus muncul selama puluhan t­ahun, s­ehingga mengganggu kehidupan sosial maupun pekerjaannya. ­Sebagian besar dari mereka merokok dan lalu menderita penyakit yang berkaitan dengan paru-paru dan jantung. Mereka mulai merokok pada saat atau setelah mengalami pengalaman pahit mereka. Saksi ahli kedua dari Korea adalah Chulwon Lee (Direktur Pusat ­Konseling Imam), yang mempelajari konsekuensi psikologis yang d ­iderita 14 perempuan tersebut. Lee menemukan beberapa pola umum. Para ­ korban-penyintas menjalani hidup sehari-harinya d­engan usaha keras, ditengah-tengah depresi berat, pesimisme, instabilitas, dan kehilangan bergairah. Mereka menderita berbagai gejala fisik berkaitan p ­ enyiksaan dan penelantaran sepanjang masa perbudakan seksual, m ­ eliputi sakit kepala, migren, sakit punggung, radang usus, tekanan darah tinggi, dan rematik. Para penyintas memiliki sikap yang negatif dalam m ­ enghadapi hubungan pribadi, sehingga sering merusak h­ ubungan tersebut. Mereka juga mengalami kesulitan dalam ­ ­ melihat realita, s­ ehingga mengalami banyak masalah dalam menghadapi kehidupan ­ ­ seharihari. Lee ­ menemukan bahwa penderitaan akibat traumanya l­ ebih parah d ­ ibandingkan dengan lansia pada umumnya. Lee menyarankan agar para korban-penyintas dikompensasi dengan ganti rugi untuk p­ enderitaan psikologi, hilangnya kesempatan finansial, psikoterapi, maupun pengobatan dan perawatan untuk penyakit-penyakit fisik yang dideritanya. Saksi ahli ketiga adalah Young-Hee Shim, dari Departemen Sosiologi Universitas Hanyang. Ia mempelajari sebab dan akibat kebisuan yang berkepanjangan serta isolasi sosial yang dialami para perempuan itu. Ia mengidentifikasi sebab kebisuan diantaranya kondisi hidup, ­faktor ­budaya, bahasa, dan identitas. Pada waktu korban menyadari akan k­embali ke kehidupan serta hubungan seperti sebelum m ­ ereka ­diperbudak mereka mungkin merasakan kecemasan dan k­etakutan karena merasa diamati oleh orang-orang di sekelilingnya. Banyak yang tidak dapat atau tidak ingin kembali ke daerah asalnya, s­ehingga 160

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents