PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
“Saya marah karena tubuh saya dilukai secara keji.” Kim Yong-Suk
bersaksi, “Ia menyakiti seluruh tubuh saya dan saya membenci tentara
Jepang. Saya tidak akan pernah bisa memaafkan mereka.”
Teng Kao Pao-Chu menyatakan, ia marah karena Pemerintah Jepang
menculik perempuan non-Jepang, tapi tidak mau mengakui hal
tersebut. Ia berkata, “Masa mudaku telah dihancurkan seperti ini! Hal ini
tidak patut dibiarkan.”
Para penyintas sampai sekarang bergelut dengan ketakutan, rasa
sakit, dan kesedihan sebagai akibat kejahatan yang menimpa mereka.
Yang Minzhen bersaksi, “Saya masih merasa sangat takut kala teringat
semuanya.” Wan Aihua berkata bahwa pengalamannya sulit dilukiskan
dengan kata-kata. Ia berkata, “Diri saya dipenuhi kesedihan.” Dua orang
bersaksi, mereka kerap mengalami ‘kilas balik’ seperti mengalami
kembali kejadian-kejadian yang mengerikan tersebut. Salah satunya
adalah, Guillerma Sombillo Banlingit, bersaksi, “kalau sudah begitu, saya
hanya menangis dan merasa tidak berdaya.”
Beberapa berkesaksian, mereka mengalami mimpi buruk dan
kecemasan. Song Shin-Do bersaksi, “Suasana medan perang tidak
pernah hilang dari mimpi-mimpi saya.” Jan Ruff-O’Herne bersaksi, ia
sering mimpi buruk dan sulit tidur sejak mengalami perbudakan s eksual.
Leonora Sumawang bersaksi, “Saya masih sering terbangun dari mimpi
buruk tentang tentara Jepang.” Rufina Quaderma Gulapa mengatakan,
“Saya sering mimpi buruk didatangi tentara Jepang bertopi dengan
penutup di daerah telinga, celananya diturunkan sampai mata kaki, dan
ia memaksakan dirinya memasuki tubuh saya.”
Banyak saksi yang menyatakan menderita rasa malu yang luar b
iasa,
walaupun kejadian-kejadian itu jelas diluar kendali mereka. Rosalina
Buco bertestimoni, “Saya tidak kuat menahan penghinaan dan
hilangnya respek terhadap diri saya .” Tomasa Dioso Salinog berujar,
“Saya merasa s angat terhina dan melihat diri saya tidak lebih dari seekor
babi di kandang.” Jan Ruff-O’Herne bersaksi, “Kami merasa kotor. Kami
merasa ternodai. Kami merasa sangat malu.” Karena rasa malu tersebut,
ia mengatakan, “Bagi kami, perang belum selesai.” Maxima Regala de
la Cruz bersaksi, “Saya malu karena merasa kotor dan bekas.” Suhanah
bersaksi, saat ia mengunjungi bekas lokasi “comfort station”-nya, “Saya
150
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents