Temuan
FAKTA-FAKTA
membunuhnya. Saya berada di sana selama tiga tahun.
Dari Cina, seorang pengawal militer Jepang membawanya ke B
urma
melalui Shanghai dan Singapura. Sampai akhir masa perang Pak YongSim ditawan di dua fasilitas perbudakan seksual di medan perang
Bruma-China. Ia bersaksi tentang pengalamannya di fasilitas tersebut:
Saya berada di sana selama dua tahun dan diberi nama “Wakaharu”.
“Comfort station” itu berada jauh di pegunungan dan tidak ada
penduduk yang hidup di sekitarnya. Nama “comfort station” ini dalam
bahasa Jepang adalah “Itakakuro”. Pada siang hari saya harus melayani
sepuluh tamtama, sedangkan pada malam hari saya harus melayani
para perwira. Para tamtama membawa kondom sendiri.
Pak Yong-Sim bersaksi: “Saya harus melayani antara 30 sampai 40
tamtama militer. Jadi, saya selalu dalam kondisi kesakitan.” Tidak lama
kemudian ia dipindahkan ke Lameng. Ia bersaksi bahwa ia juga harus
melakukan pekerja an tambahan selain pelayanan seksual kepada
“puluhan
serdadu Jepang” setiap harinya, tak terkecuali pada saat
pengeboman S ekutu yang berbahaya. Kala sedang hamilpun, ia tetap
dipaksa
melayani s
eksual. Beberapa bulan kemudian, tentara Cina
menemukan Pak Yong-Sim, membawanya bersama tiga perempuan
lainnya sebagai tahanan ke kamp militer, lalu menginterogasi dan
membuat fotonya.228.Di kamp, Pak Yong-Sim m
engalami pendarahan
dan harus dioperasi, dan bayinya lahir mati. Sejak itu ia tidak bisa lagi
memiliki keturunan. Ia dibebaskan dari kamp tahanan perang pada
1946,menumpang kapal laut dan kereta api hingga akhirnya kembali ke
kota asalnya setelah pergi selama sembilan tahun,dan setidaknya tujuh
tahun dihabiskan sebagai “comfort woman” 229.
Seorang saksi lainnya, Kim Bok-Dong, bercerita bagaimana pada 1941,
saat ia berusia 15 tahun, bapak kepala desa memaksa keluarganya untuk
mau mengirimnya bekerja ke Korp Sukarelawan dan menyuruh ibunya
menandatangani beberapa dokumen230. Ia bersaksi, tentara Jepang
membawanya naik truk militer ke sebuah bangunan rumah sakit di
Guangdong. Mereka menaruhnya bekerja di sebuah “comfort station”,
yang meski seolah-olah tidak ada h
ubungannya dengan militer namun
khusus melayani tentara Jepang, 231. Dari 30 perempuan yang berada
disitu, hanya satu orang yang bukan Korea. Kim Bok-Dong menceritakan
fase awal pengalamannya di “comfort station”:
81
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents