PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU Seorang saksi lain dalam Pengadilan ini, Lu Mang-Mei, direkrut ke dalam “comfort system” di usia 17 tahun pada 1943, setelah dijanjikan ­pekerjaan sebagai perawat215. Karena ia dan keluarga angkatnya miskin, ia berpikir bahwa tawaran pekerjaan tersebut baik untuk ­ diterima “Saya pikir menjadi perawat adalah pekerjaan yang baik dan dapat memperoleh gaji yang baik... [dan] periode kontraknya hanya satu tahun216. Ia dibawa ke Pulau Hainan di Cina ­menggunakan kapal perang Jepang. Di Pulau Hainan, tentara Jepang memberitahukan Lu Mang-Mei dan dua orang temannya yang direkrut dengan janji akan dipekerjakan sebagai pelayan restoran di luar negeri, yang juga bergaji tinggi. Mereka memutuskan mengambil pekerjaan itu dan sebuah kapal perang Jepang berisi penumpang dan barang m ­ embawa mereka ke Hung-Sa, tujuan terakhir mereka. Lu-Mang Mei bersaksi: Setelah tiba di tujuan, kami baru sadar bahwa tempat ini ­adalah pos “ comfort women”, dan bukan sebuah restoran. Station ini dikelola s­ eorang Jepang dan bentuknya seperti asrama gaya Jepang. Bangunannya ­terbagi menjadi kamar-kamar yang d ­ ibatasi papan kayu dan berlantai Tatami. Setiap perempuan ­memiliki satu kamar. Asrama ini berada di sisi bukit, ­dikelilingi banyak p ­ ohon palem. Di pinggir laut terbentang ladang-ladang garam.... Disini ada lebih dari 30 perempuan. Tiga puluh ­berkebangsaan Taiwan dan ­sisanya dari Jepang. Gadis-gadis­­Taiwan ini tidak pernah b ­ erhubungan dengan gadis-gadis Jepang itu. Semua ­tentara berkebangsaan Jepang. Mereka datang dengan mobil... Serdadu maupun perwira harus membeli tiket terlebih dahulu dari menejer, baru boleh memilih ­perempuannya. Saya b ­ iasanya menghasilkan beberapa [enam atau tujuh] ratus yen per ­bulan. Menejer selalu ­mengambil 60 persen dari jumlah tersebut. Kami harus ­memberikan ­pelayanan siang dan malam. Beberapa tentara m ­ enginap dan untuk itu kami mendapat lebih banyak uang. Kami tidak boleh mengatakan tidak. Tidak melayani, tidak ­dapat uang. Kami boleh berjalan-jalan di sekitar station. Mereka ­memakai k­ondom.­Pertama kali, saya sangat ketakutan. Saya merasa ­dikhianiati sampai bisa ­berada di tempat ini, d ­ itinggalkan s­endirian, tanpa memiliki ­saudara atau teman. Saya pikir saya tidak ­melakukannya, dan saya berusaha melawan.... Saya m ­ eminta ‘tamu’ untuk tidak ­melakukannya, tetapi selalu dijawab “saya s­udah membeli tiket.” Lalu saya mengatakan kepadanya bahwa saya seharusnya bekerja sebagai pelayan restoran dan bukan ‘begini’ Si ‘tamu’ menjawab “katanya b ­ egitu, namun tidak begitu.” Sudah terlambat bagi kami untuk sadar. Kami 76

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents