Temuan
FAKTA-FAKTA
langsung pembelian perempuan [belia dan dewasa] untuk “comfort
stations” di Cina dan Taiwan. Di Taiwan, militer memaksa perempuan
buruh pabrik untuk menjadi “comfort women”, menggiring mereka ke
“comfort stations” dengan menggunakan kapal perang, dan menahan
mereka di fasilitas tersebut, dan dokter militer memonitor mereka untuk
penyakit menular seksual. Para saksi menuturkan bahwa pembelian
dilakukan dengan berbagai cara, tapi kebanyakan melalui penipuan
dan pemaksaan. Setelah dibeli, para perempuan tersebut kemudian
diperbudak secara seksual.
Tatkala Lin Shen-Chung (Iyang-Apay) berusia 16 tahun, seorang polisi
lokal memberi tahu ibunya bahwa ia akan dibawa pergi untuk pentas
di pertunjukan panggung dan bekerja sebagai penjahit baju tentara
Jepang. Bersama tiga orang kenalan yang bekerja bersamanya, ia
ditawan di sebuah rumah dan dilarang pulang ke rumahnya sendiri,
dengan
alasan para majikan Jepang tidak ingin mereka terlambat
datang ke tempat kerja 213. Lin Shen-Chung (Iyang-Apay) bersaksi:
Setelah bekerja selama hampir tiga bulan, pada suatu hari, deputi
kapten Gunsho Nalida membawa saya ke mulut sebuah gua, dan
memerintahkan saya untuk menunggu di sana. Seorang serdadu Jepang
kemudian datang dan meminta saya memberikan pelayanan seksual.
Saya dengan tegas menolak. Tapi, serdadu Jepang itu mengatakan
”karena kamu berkerja di sini, ini adalah bagian dari tugas kamu.” Ia
memaksa saya memenuhi permintaan seksualnya tanpa pembayaran.
Setiap hari, kami berenam dibawa ke gua tersebut satu per satu untuk
hal tersebut, m
elayani m
aksimal sebanyak lima serdadu tiap m
alamnya.
Setiap satu
serdadu selesai, kami diperbolehkan istirahat selama
setengah jam. Kami berenam dipaksa memberikan pelayanan seksual
secara
bergantian di atas sebuah tempat tidur yang ditempatkan
sepuluh meter dari mulut gua. Orang-orang yang memaksa kami untuk
berhubungan seks termasuk Dokter Miyamodo, Kapten Ela, dan Deputi
Kapten Nalida.... Saya hanya dapat menangis setiap harinya.
Selama menjadi “comfort woman”, Lin Shen-Chung (Iyang-Apay)
mengalami hamil tiga kali. Ia diharuskan melaporkannya kepada dokter
militer Jepang, dan kehamilannya selalu diaborsi214. Ia baru bisa kembali
ke keluarganya setelah Jepang pergi.
75
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents