Temuan FAKTA-FAKTA kondisi ekonomi yang sulit dan menghadapi banyak rintangan dalam menafkahi diri sendiri maupun keluarganya. Mayoritas dari mereka ­ ­ memutuskan tidak menikah sekembalinya ke daerah asal atau ­ditinggalkan suaminya. Nona. X bersaksi, sepeninggal ­suaminya, ia harus mencari nafkah juga unutk kedua anak perempuannya ­dengan tubuh yang tidak sehat, bekerja apa saja sebagai tukang cuci, pedagang ­ ­ asongan dan pembantu rumah tangga.Namun ia tidak mampu ­ ­ menghasilkan uang yang memadai,sehingga sulungnya t­erpaksa ­putus sekolah dasar. Lin Shen-Ching (Iyang-Apay), meski telah ­empat kali ­mencoba berumah tangga, harus menghadapi ditinggalkan ­menghidupi anak-anaknya s­eorang diri, memberi kesaksian beratnya hidup bertani yang ­ merupakan kegiatan ekonomi turun menurun ­sukunya. Tomasa Dioso Salinog, yang memilih tidak menikah karena takut disakiti suami, bekerja sebagai tukang cuci, penjahit dan buka warung tetap b ­ erpenghasilan minim. Saksi lain menyatakan mereka mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan rumah tangga atau kerja-kerja lain yang tergolong status sosial rendah. Song Shin-Do bersaksi, ia bekerja untuk seorang lakilaki Korea-Jepang setelah ia ditinggalkan seorang diri di Jepang. Kim Gun-Ja bersaksi ia bekerja sebagai pedagang asongan dan pembantu rumah tangga. Lu Mang-Mei dan Teng Kao Pao-Chu bersaksi mereka ­mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, Lu ­MangMei s­ebagai pengasuh bayi dan pencuci pakaian sedangkan Teng Kao ­Pao-Chu sebagai juru masak dan pencuci pakaian. Teng Kao Pao-Chu s­ebelumnya bekerja di bar dan menari di klub malam. Ketika masih menikah pun ia harus bekerja keras untuk suaminya. Sejumlah saksi menyatakan bahwa ketercemaran mereka dirasakan cukup mengganggu upaya mencari nafkah. Mardiyem bersaksi, s­ etelah ia berbicara secara publik mengenai pengalamannya, banyak orang yang memboikot usaha kateringnya. Teng Kao Pao-Chu mengatakan bahwa kesempatannya untuk mendapatkan pekerjaan sangat terbatas karena orang-orang menganggap dirinya sebagai “perempuan kotor”. Sebagai kesimpulan, para penyintas perkosaan, perbudakan s­eksual, dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya, harus menelan k­ onsekuensi sosial-ekonomi atas pengalaman mereka dan tidak terlepas dari trauma fisik dan emosional yang mengikutinya,hal ini membuat hidup mereka menjadi ‘perjuangan dari hari kehari’. 157

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents