Temuan FAKTA-FAKTA K­orea, bersaksi bahwa seorang laki-laki Jepang dan kepala desa ­setempat ­memaksa ­ibunya menandatangani surat p ­ ersetujuan ­dengan alasan ia tidak ­memiliki anak laki-laki, dan berbohong ­mengatakan Kim ­BokDong akan dijadikan anggota “Teishintai” pada sebuah pabrik ­seragam militer. Jadi penipuan wajib militer untuk mengurangi p­erlawanan. Bukti-bukti juga menunjukkan bahwa gadis maupun perempuan ­dewasa diambil dari kamp tawanan sipil. Saksi bernama Jan R ­ ­uff-O’Herne memberikan kesaksian bahwa sejumlah tentara, termasuk ­ ­ seorang yang ia yakini perwira berpangkat tinggi, datang ke kamp tawanan ­memeriksa dan lalu membawa perempuan berusia antara 17 sampai 28 tahun. ­Samasekali tanpa memperdulikan protes ibu-ibu mereka.. Sebagian perempuan yang direkrut untuk “comfort stations” dibeli dari orang tua yang sangat miskin. Saksi Korea berkesaksian, ia dan s­ejumlah perempuan lainnya “dijual kepada orang Jepang”. Buletin SEATIC L­ aporan Sekutu menyatakan, seorang menejer bangsa Jepang pengelola ­“comfort station” di Burma yang beroperasi di bawah kendali militer, membeli perempuan Korea dari keluarganya dengan harga 300 sampai 1.000 yen per orang, “tergantung atas kepribadian, p ­ enampilan dan umur [mereka].” Dan setelah dibeli, mereka “menjadi miliknya ­seutuhnya”. Laporan OWI yang dibuat berdasarkan wawancara dengan ”­comfort women” dan para pengelola menyatakan bahwa termin “kontrak” ­“bervariasi dari enam bulan sampai satu tahun, tergantung dari ­besarnya hutang keluarga”. Sebagian perempuan itu menjadi korban jeratan hutang: mereka dibawa pergi dan harus “bekerja” sebagai bayaran ­hutang, namun kenyataannya dipaksa bekerja lebih lama daripada yang ­seharusnya. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pasal-pasal dalam “kontrak” juga tidak dipatuhi. Kesaksian juga menggambarkan bahwa penipuan adalah cara yang ­paling banyak dipakai untuk mendapatkan gaid maupun p ­ erempuan ­dewasa untuk “comfort stations”. Fakta ini tidak terbantahkan, ­khususnya di Korea, sebagaimana diungkapkan dalam statistik yang disusun oleh Jaksa Penuntut Korea. Untuk memikat perempuan agar b ­ ersedia “­sukarela”, para perekrut menjanjikan pekerjaan sebagai pencuci baju, pegawai restoran, buruh pabrik, staf rumah sakit, atau pekerjaan 111

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents