Temuan FAKTA-FAKTA Tomasa Dioso Salinog ditahan di “comfort station” selama satu tahun, diperkosa oleh tiga atau empat laki-laki setiap harinya. Ia b ­ erhasil ­melarikan diri, ketika para tentara mabuk dan lupa mengambil kunci kamarnya. Ia bersembunyi dirumah pasangan usia lanjut, tetapi m ­ ereka kemudian dipaksa menyerahkan dirinya kepada seorang tentara ­ Jepang yang berhasil menemukannya. Ia lalu tinggal bersama ­tentara ini, ­Okumura, sampai perang berakhir. Ia memilih tinggal di rumah Okumura dan diperkosa oleh beberapa orang, ketimbang kembali ke “comfort station” untuk diperkosa sedemikian banyak tentara Jepang. Ia ­diperkosa oleh Okumura dan teman-temannya setiap kali mereka ­datang ke ­rumah. Ketika pasukan Amerika mendarat di Filipina, ia ­berhasil m ­ eninggalkan tempat itu, dan kembali ke daerah asalnya. Ia tidak pernah menikah. Maxima Regala de la Cruz, seorang korban-penyintas “comfort system”, bersaksi melalui video kepada Pengadilan ini bahwa pada Agustus 1944, saat berusia 15 tahun, seorang tentara Jepang menculiknya beserta ­ibunya dari jalan raya, dan membawa mereka ke sebuah rumah. Di sana, mereka dikurung di satu kamar, namun dipisahkan setiap malamnya, dan diperkosa berulang kali. Maxima Regala de la Cruz mengisahkan tindak perkosaan yang pertama dengan kata-kata berikut ini: Seorang tentara Jepang memasuki kamar saya. Ia menyuruh saya ­berbaring di tempat tidur. Saya menolak, tapi ia memaksa saya u ­ ntuk telentang. Saya menjerit dan melawan, sampai ia mengeluarkan ­ ­pedangnya dan menghunusnya kepada saya. Sangat ketakutan,saya lalu diam. Ia kemudian mendorong saya ke tempat tidur, lalu memperkosa saya. Saya berteriak minta tolong dan memohon kepada ­tentara itu ­untuk berhenti, tapi ia tidak menggubrisnya. Sejak perkosa pertama itu, saya menjadi sangat cemas dan gelisah. Setiap kali ada tentara Jepang bersenjata pedang memasuki kamar dan menyentuh saya, saya l­angsung pingsan. Inilah sebabnya saya tidak dapat mengingat berapa kali saya diperkosa. Saya tahu bahwa saya diperkosa karena rasa sakit dan linu di sekujur t­ubuh, khususnya pada kemaluan saya. Sejak hari itu, saya dan ibu ditahan di rumah tersebut. Pada siang hari, ­ketika para t­entara sedang bergerak menyerbu desa-desa, ibu dibawa ke kamar saya dan kami berdua dikurung di sana. Seorang tentara selalu ­mengawasi kami, bahkan pada saat kami harus ke kamar mandi. Pada malam hari, kami ditempatkan di kamar yang terpisah, di mana para tentara yang baru kembali dari operasi militer memperkosa kami. 91

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents