Temuan FAKTA-FAKTA (d) Perbudakan Seksual perempuan Filipina belia dan Dewasa Pada saat mendirikan rezim militer di Filipina pada 1942, militer Jepang juga membangun sejumlah fasilitas perbudakan seksual disana. Seperti di negara lainnya, militer Jepang menggunakan berbagai cara, terutama pemaksaan dan penipuan, untuk mewajibkan para perempuan Filipina [belia dan dewasa] masuk ke dalam sistem perbudakan seksual. Fasilitas “comfort” ini dikelola warga sipil Jepang yang telah ­memperoleh izin dari pejabat yang bersangkutan 238. Semua ­menejer “comfort station” memang harus mematuhi peraturan dan tata tertib ­militer Jepang. Salah satu peraturannya adalah m ­ emisahkan “­comfort ­stations” untuk Angkatan Udara dan Angkatan Laut, dan membagi d ­ engan jelas ‘Station” mana yang disupervisi langsung oleh pejabat t­ ertinggi dan mana yang merupakan ajun untuk markas A ­ ngkatan Udara dan A ­ ngkatan Laut. Ada juga peraturan yang m ­ elarang p ­ emakaian “comfort women” yang masih dibawah umur, dan aturan p ­ emeriksaan penyakit k­elamin untuk para perempuan seminggu sekali, serta ­aturan harus menggunakan kondom setiap saat. “comfort women” tidak boleh ­melakukan hubungan seks jika sedang mengalami m ­ enstruasi, dan harus ditempatkan di bagian rumah yang ­ mempunyai tempat t­idur bersih239. Peraturan untuk “comfort ­station” p ­ ertama di F­ ilipina, yang didirikan pada tahun 1942, malah lebih rinci. ­Contohnya, “­comfort women” diperbolehkan berjalan-jalan pada waktu tertentu (antara jam delapan sampai sepuluh pagi) dalam jarak yang t­erbatas. “Comfort s­tations” hanya boleh digunakan oleh “anggota militer dan p ­ egawai sipil angkatan bersenjata Jepang yang memakai seragam ­militer” yang ­telah membayar di muka240. Tak lama ­kemudian, ­fasilitas p­erbudakan seksual juga didirikan di Cagyan City241, Pulau Masbate di Laguna242, ­Santa Cruz243, dan Panay244. Pengadilan ­mencatat bahwa peraturan-peraturan tersebut ternyata secara umum tidak ditaati, dan para “comfort women” tidak berdaya untuk m ­ engharuskan tentara memakai kondom atau menolak melayani saat menstruasi maupun mencegah perekrutan perempuan dibawah umur. Di hadapan Pengadilan ini, Tomasa Dioso Salinog bersaksi bahwa pada April 1942, saat berusia 13 tahun, ia dibawa secara paksa dari rumahnya oleh tentara Jepang, setelah memenggal ayahnya di depan matanya. Walaupun mengetahui bahwa ia masih di bawah umur, tentara itu tetap membawanya ke sebuah rumah besar yang tidak jauh dari ­kediamannya, 89

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents