PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
Vietnam, dan bekerja di bar dan pabrik sepanjang perjalanannya itu.
Ia menghabiskan satu tahun di Vietnam, sebelum akhirnya menaiki
“kapal militer menuju daerah asalnya.” Tre Gop-Soon berjalan kaki dari
Manchuria ke Korea, suatu perjalanan panjang yang memakan waktu
empat tahun, menjadi saksi banyak sekali kematian dan kesengsaraan
yang berkepanjangan. Kim Gun-Ja menceritakan perjalanan pulangnya
dari Manchuria, selama satu bulan berjalan kaki, menyeberangi sungai
dan akhirnya menumpang di kereta barang ke Korea.
Pada periode pasca-perang, “comfort women” tidak memiliki sistem
dukungan yang dapat mereka andalkan. Pada beberapa kasus,
keluargalah yang memberi pertolongan, merawat, dan membantu untuk
bertahan hidup. Hanya saja, tidak ada sumber daya, baik di masyarakat
ataupun negara, yang menopang agar mereka dapat memulihkan lukaluka fisik, penyakit, serta trauma emosionalnya. Penelitian Young-hee
Shim menyoroti beban hidup sehari-hari warga Korea seusai penjajahan
Jepang ketika tidak satupun negara-bangsa mampu menyediakan
sumber daya tersebut bagi masyarakat.
Testimoni para saksi-penyintas, juga studi Young–hee Shim,
menunjukkan bahwa selain konteks penderitaan dan trauma yang biasa
ditemukan didalam masyarakat pasca-perang, nilai-nilai partriarkal
seperti “ideologi kesucian” dan ketatnya pembatasan peran p
erempuan
dalam kehidupan publik-privat telah memperparah kesengsaraan para
“comfort women”, serta menjadikan mereka seolah-olah tidak terlihat,
kesengsaraan yang mereka derita tidak bernama dan tidak layak
dibicarakan.
12. Kesimpulan
Penderitaan yang dialami “comfort women” dimulai pada saat mereka
direkrut secara ( illicit), seringkali melalui penipuan atau penculikan,
setelah menyaksikan anggota keluarganya diperkosa atau dibunuh,
dan berlanjut dari hari ke hari, sepanjang mereka diperbudak, berulang
kali diperkosa dan disiksa, dilecehkan, serta diperlakukan secara kasar
selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Para perempuan
maupun gadis-gadis itu tidak dapat mengatur hidupnya sendiri k arena
kemampuan untuk membuat keputusan yang mendasar tentang
tubuh, gerak-gerik, identitas, dan masa depan mereka telah dirampas.
Ini semua terjadi pada fase hidup di “comfort station” yang sepenuhnya
dikendalikan dan dimanipulasi oleh Jepang maupun agen-agennya.
136
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents