PENGADILAN RNASIONAL PERANG INTE UAN N TA KEJAHA REMP TERHADAP PE SEMBER 2001 DE 4 N SA TU KEPU pistol mereka disimpan. Saya harus melayani mereka selama tiga bulan. Marta Abu Bere menjadi sedemikian lemahnya, sehingga orang tuanya dapat meyakinkan Komandan Tentara Jepang bahwa anak ­ ­perempuannya terlalu lemah untuk dapat terus bekerja di “comfort s­tation”. (i) Perbudakan Seksual terhadap Perempuan Jepang Belia dan ­Dewasa Militer Jepang mulai merekrut “comfort women” Jepang pada awal 1938, setelah terjadinya pembantaian dan pemerkosaan massal di Nanking yang dilakukan serdadu-serdadu mereka275. ­Rekrutmen para perempuan diatur secara ketat. Peraturan yang diterbitkan oleh Kepala Biro Polisi Kementerian Dalam Negeri berjudul “Hal-hal tentang Penanganan Perempuan yang Berlayar ke Cina” menyebutkan bahwa perempuan yang dicari untuk mengisi “comfort station” adalah “pekerja seks, berusia di atas 21 tahun, dan bebas dari penyakit menular seksual” 276 . Saksi ahli Profesor Yoshimi menjelaskan peraturan ini digunakan karena Jepang merupakan salah satu penandatangan dari tiga perjanjian yang melarang pembelian dan penjualan p ­ erempuan dan anak-anak277. Tampaknya Pemerintah Jepang juga tidak ingin dikecam masyarakatnya jika melakukan pemaksaan dan penipuan terhadap warga negaranya yang bukan pekerja seks masuk ke dalam perbudakan seksual. Profesor Yoshimi m ­ endokumentasikan kasus-kasus “comfort women” Jepang di bawah umur dan bukan p ­ ekerja seks278. Meski mayoritas “comfort women” Jepang ­merupakan mantan pekerja seks279, bukti ­menunjukkan adanya perempuan Jepang yang bukan pekerja seks dalam jumlah ­signifikan yang juga dipaksa memberikan pelayanan ­seksual. Tentang perempuan Jepang mantan pekerja seks yang menjadi ­bagian dari “comfort system”, ada bukti yang menunjukkan bahwa banyak dari mereka pada awalnya secara sukarela bergabung ke dalam­“­comfort ­system”. Sebagian dari mereka, tidak memiliki hutang, sedangkan s­ebagian yang lain hutangnya telah dibayar militer Jepang280. Profesor Yoshimi menemukan beberapa indikasi bahwa ­pekerja seks dijanjikan upacara pemakaman di Kuil Yasuhuni sebagai arwah pahlawan perang, dan itu merupakan penghargaan atas pelayanan s­eksual yang mereka berikan kepada tentara Jepang pada masa perang. 102

Select target paragraph3

Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents