PENGADILAN RNASIONAL
PERANG INTE UAN
N
TA
KEJAHA
REMP
TERHADAP PE SEMBER 2001
DE
4
N
SA
TU
KEPU
Kedua perempuan tersebut ditahan di “comfort station” selama tiga
bulan. Maxima Regala de la Cruz diberi pakaian tambahan karena
setiap kali ia kembali ke kamarnya, bajunya selalu berlumuran darah.
Walaupun ia selalu mencari kesempatan untuk melarikan diri, penjaga
tidak pernah luput mengawasinya. Pada suatu hari di bulan Oktober
1944, ketika para tentara lupa mengunci pintu kamar mereka, ia dan
ibunya melarikan diri, lalu mencari pertolongan untuk ibunya, yang
ketika itu sudah amat lemah. Mereka juga mendapatkan bantuan untuk
pulang ke daerah asalnya, dan kembali bersatu dengan keluarganya.
(e) Perbudakan Seksual di Malaysia dan terhadap Perempuan
Malaysia Belia dan Dewasa
Tidak lama setelah Jepang menyerbu Malaysia [Malaya] pada 1941,
penguasa administrasi Jepang di wilayah tersebut mendirikan dan
mengelola “comfort station” di Semenanjung Malaya dan Singapura245.
Pasukan Divisi ke-25 pimpinan Jenderal YAMASHITA, yang berwenang
mengatur fasilitas di Malaysia, mengirim tentara ke Bangkok, Thailand,
untuk membeli “comfort women”, dan mereka kembali membawa tiga
perempuan Thai yang dinyatakan bebas dari penyakit kelamin. Berturutturut setelah itu, militer Jepang membangun fasilitas di berbagai daerah
di Malaysia, lalu menempatkan perempuan Malaysia belia dan dewasa
bersama perempuan-perempuan lainnya dirumah itu246.
YAMASHITA adalah Komandan Pasukan Divisi ke-25 di Malaya dari b
ulan
November 1941 sampai Juli 1942. “Comfort stations” di M
alaysia, seperti
halnya fasilitas di Filipina, diatur ketat oleh militer Jepang, k hususnya
untuk perawatan medis yang dianggap perlu untuk mencegah penyakit
menular seksual. Peraturan secara eksplisit m
enyebutkan bahwa k ondom
harus dijatah dan digunakan sebanding dengan j umlah “comfort women”
di setiap kota, dan bahwa “comfort station” hanya d
apat digunakan
247
oleh personil militer . Fasilitas “comfort” didirikan di berbagai wilayah
Malaysia, termasuk Kuala Pilah, Port Dickson, Penang248, Kuala Lumpur,
dan Semarang 249.
Seperti di wilayah pendudukan lainnya, militer Jepang menggunakan
berbagai cara untuk merekrut perempuan ke dalam “comfort
station”, diantaranya iklan yang menyesatkan dan pemaksaan,serta
menghempaskan para perempuan itu ke penahanan yang berkondisi
brutal
92
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents