Temuan
FAKTA-FAKTA
10 sampai 15 serdadu. Jika para sedadu memberikan uang kepada
saya, saya berikan uang tersebut kepada pengelola untuk ditukarkan
dengan kondom dan kertas tisu. Jumlahnya sekitar satu atau dua
yuan Cina, dan para pengelola mencatatnya di dalam buku rekening.
Setiap hari Minggu, serdadu sampai harus menunggu dalam antrean
di luar. Setiap serdadu diberi waktu sekitar satu jam. Jika saya menolak
seorang
serdadu
untuk masuk dua kali, kadangkala saya dipukuli.
Beberapa serdadu datang dalam kondisi mabuk dan mengancam akan
membunuh saya. Saya melawan serdadu yang tidak mau menggunakan
kondom. Jika seorang serdadu tidak puas dengan perempuan yang
melayaninya, ia
mengadu kepada si pengelola yang kemudian
memukuli dan m
enendang perempuan tersebut.... Di tempat itu ada
pemandian. Setelah m
elayani, saya pergi kesana dan membersihkan
diri dengan air yang telah diberi obat. Setiap Senin saya pergi ke rumah
sakit di desa Jokgyong dan d
iperiksa untuk penyakit menular seksual......
Pemilik fasilitas tidak suka jika ada perempuan yang terkena penyakit.
Jadi, mereka [para p
erempuan] menaburi bola kapas dengan debu dan
menyeka tubuhnya dengan kapas itu. Dengan cara ini, perempuan yang
terkena infeksi pun akan dapat lolos dari pemeriksaan. Perempuan yang
terkena sifilis langsung dimasukkan ke rumah sakit dan diberi suntikan
606. Mereka biasanya sembuh dalam waktu 15 hari.
Ha Sang-Suk dan perempuan lainnya tidak boleh
meninggalkan
kompleks ataupun beristirahat. Si pengelola “comfort station”
membelikan pakaian dan kosmetik, tapi tidak pernah memberikan uang.
Ia berusaha meminjam uang dari laki-laki Korea yang membawanya
ke “comfort station” tersebut, untuk membeli tiket kereta api pulang.
Tetapi, laki-laki tersebut mengatakan ia harus bekerja selama tiga
tahun untuk bisa mengembalikan pinjaman itu236. Pada suatu hari, Ha
Sang-Suk mendengar berita bahwa Jepang telah kalah perang, lalu ia
meninggalkan “comfort station” tersebut. Setelah itu, ia memutuskan
tidak kembali ke Korea dan menetap di Cina dan menikahi seorang
warga Cina dan memiliki tiga orang anak.
Song Shin-Do, seorang korban sistem perbudakan seksual yang
selamat, berusia 16 tahun pada 1938, ketika seorang perempuan
Korea m
engusulkan agar ia bekerja membantu orang-orang di
medan p
ertempuran. Karena tinggal sendiri dan belum menikah, ia
memutuskan ikut dengan perempuan tersebut ke Pyongyang, di mana
85
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents