6
Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n
Simpang Marade, tempat truk-truk pengangkut kayu dan aparat
keamanan yang menjaganya biasanya akan lewat.
“Dengan menangis, sambil berjalan cepat saya berdoa di dalam hati,
mungkin harus ada yang korban, kalau bukan dia, para perusak itu, saya
juga sudah siap, ya Tuhan. Biarlah saya mati. Tetapi saya masih
bersyukur akhirnya belati yang saya bawa tidak pernah saya pergunakan
ketika menghadang polisi yang mengawal truk-truk pengangkut kayu
itu,” ungkapnya.
Tangisan perempuan yang diceritakan sebagai mitos kemenyan kini
mewujud menjadi kenyataan. Perempuan menangis karena ancaman
kemelaratan yang akan datang akibat dari perampasan tanah dan hutan
adat milik warga yang telah berlangsung lima tahun terakhir.
Perempuan dan laki laki yang biasanya sehari-hari bekerja di ladang dan
tombak haminjon, harus tersita waktunya untuk terlibat diskusi rutin,
demonstrasi, delegasi ke berbagai kantor pemerintah di kota, bahkan
kontak fisik langsung dengan aparat keamanan dan pihak TPL di tombak
haminjon dan di desa.
Perjuangan perempuan bukan hanya melawan kehadiran perusak hutan
itu, tetapi juga perjuangan membangun peran yang setara dengan
laki-laki untuk menyampaikan suaranya, perjuangan melawan lapisanlapisan ketidakadilan terhadap perempuan.
Memanggil dan melibatkan perempuan bukan hanya sebagai orang yang
diperintah, tetapi terlibat membicarakan dan mengambil keputusan
masih dirasa sulit. Hari Rabu, 8 Oktober 2014, pertemuan membahas
masa depan perjuangan masyarakat adat di Pandumaan dilakukan di
salah satu rumah warga di Pandumaan. Perempuan satu-satunya yang
hadir dalam pertemuan penting itu adalah Oppung Putra Boru. “Saya
sulit memanggil teman-teman perempuan yang lain. Sudahlah kalianlah
yang membicarakannya, nanti kalau sudah diputuskan, kami pasti ikut
melaksanakannya. Saya kesal dengan jawaban itu,” ungkapnya.
Pagi hari besoknya, 9 Oktober, ketika Oppu Putra belanja supermie dan
telur ke lapo –sejenis kedai kecil-, untuk sarapan kami yang menginap di
rumahnya, seorang perempuan bertanya kepadanya, “Siapa itu yang
datang ke rumah? Lalu ia menjawab dengan kesal, “Ngga tahu aku itu,
makanya kalian datang pertemuan, supaya tahu semuanya.”
Di tengah-tengah diskusi tentang masa depan perjuangan masyarakat
adat tanggal 8 Oktober itu, tiba-tiba seseorang menelepon kepala desa