16
Konfl ik Agrar i a Ma sya r akat H ukum A dat Ata s W i layahnya di K awa s a n Hu ta n
setiap keluarga yang diperoleh dari lebih dari 4000 hektar lahan
kemenyan yang tersedia. Pekerja sehari-hari di tombak kemenyan
dilakukan oleh laki-laki, sementara pekerja untuk pertanian padi dan
kebun kopi secara umum dikerjakan oleh perempuan.
Perempuan hampir tidak dilibatkan dalam melakukan budidaya
kemenyan di tombak. Juga, perempuan dianggap pantang memanjat
pohon kemenyan. Sejak kecil, anak laki laki telah dilibatkan untuk ikut
bekerja di tombak. Warga Desa Hamparan tombak kemenyan, yang
ditempuh dengan cara berjalan kaki sekitar 2 sampai 3 jam melalui jalan
setapak, berjarak antara 7 hingga 12 kilometer dari desa. Sejak tahun
2009, sebagian warga sudah mulai memanfaatkan jalan timbunan tanah
bercampur batu yang dibuka oleh Toba Pulp Lestari. Jalan ini dibuka
oleh TPL sebagai akses untuk melakukan penebangan pohon alam.
Jarak tempuh tombak haminjon via jalan baru sekitar 40 menit. Setiap
petani kemenyan akan tinggal selama empat hingga 6 hari di pondok
kecil di tombak, dan pulang ke desa sekali seminggu untuk membawa
hasil.
Urusan perempuan dimulai sejak hasil getah kemenyan tiba di rumah.
Perempuan bertugas untuk memilah getah kemenyan hingga menjual
ke pasar atau ke toke kemenyan yang datang ke rumah. Perempuan juga
bertugas menyiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa ke hutan
sebagai bekal selama satu minggu, seperti beras, ikan, dan rokok.
Untuk urusan pertanian padi, peran perempuan lebih mendominasi.
Hamparan persawahan dan kebun kopi yang ditaksir sekitar 300 hektar
berada tidak jauh dari pemukiman penduduk. Laki-laki hanya terlibat
utamanya saat panen raya padi. Hasil pertanian padi diperuntukkan bagi
kebutuhan subsistensi selama setahun. Tidak seperti tahun-tahun
sebelumnya di mana warga tidak membeli beras dari luar desa, lima
tahun terakhir hasil produksi padi menurun drastis, dan penduduk telah
membeli beras dari Kota Dolok Sanggul.
Perempuan dalam organisasi keluarga di Pandumaan dan Sipituhuta
berposisi sebagai ‘bendahara’ yang memegang kas dan mengelola
keuangan. Laki-laki diposisikan sebagai orang yang bekerja di luar
rumah, khususnya untuk mengelola tanaman kemenyan di tombak.
Kaum ibu juga berperan mengatur keuangan untuk belanja kebutuhan
rumah tangga dan mengatur keuangan untuk biaya sekolah anak seharihari. Perempuanlah yang paling merasakan dampak menurunnya hasil
kemenyan yang dibawa oleh kaum pria setiap minggunya.